Distribusi Terganggu, Pedagang Plastik di Timika Terancam Kehabisan Stok
Papua60detik - Konflik Timur Tengah mulai berdampak pada para pelaku usaha produk berbahan plastik di Timika. Para pedagang yang menggunakan plastik sebagai pembungkus juga turut terdampak.
Sebelumnya beberapa media nasional memberitakan berbagai jenis plastik semakin langka dan harganya mulai naik. Hal ini dipicu penutupan Selat Hormuz yang juga mendorong biaya logistik dan energi.
Baca Juga: Pertamina Suplai LPG, Perkuat Stok di Timika
Pemilik Toko Sinar Sulawesi Plastik, Haji Patin, mengaku sudah mendapat informasi terkait kelangkaan itu. Bahkan beberapa pabrik langgananya di luar daerah sudah tutup karena kekurangan bahan baku.
Sementara di tokonya, stok plastik yang lama mulai mulai menipis. Haji Patin mengaku kesulitan mengorder stok baru dari beberapa langganannya, salah satunya di Surabaya.
"Kita mau order juga tidak ada barangnya. Kalau ini sudah habis, ya habis sudah. Kalau harga belum ada kepastian," ujarnya saat diwawancarai, Rabu (08/04/2026).
Memang sejak perang, harga plastik langsung mengalami kenaikan mulai dari 20 persen hingga 50 persen. Haji Patin mencontohkan, yang awalnya mereka pesan dari Surabaya dengan harga Rp800 ribu per Kg naik menjadi Rp1 juta per Kg.
Bukan hanya berdampak pada harga plastik, biaya pengiriman juga meningkat dari Rp25 juta menjadi Rp30 juta.
"Kalau kita di sini sudah mulai beberapa hari yang lalu (naik harga). Awal-awal pembeli yang betul-betul mau pakai, ada yang marah-marah tapi tetap beli. Kalau ibu rumah tangga ada mungkin yang tahan-tahan," ujarnya.
Ia pun mengatakan seandainya perang terus terjadi dan plastik semakin langka, ada kemungkinan pihaknya akan melakukan pengurangan karyawan.
Hal yang sama disampaikan oleh salah satu pedagang di Pasar Sentral, Iksan. Ia mengaku mulai kesulitan mendapatkan plastik dan harus menghadapi kenaikan harga. Harga kantong plastik kecil yang sebelumnya Rp16 ribu kini naik menjadi Rp30 ribu.
Ia pun mulai menghemat penggunaan kantong plastik agar stok yang ada bisa bertahan. Biasanya Iksan mendapatkan plastik dari agen dan distributor di Timika.
"Sekarang belum terlalu terasa, tetapi kalau penggunaannya kita sudah kurang-kurangi. Yang biasanya kita membuatnya itu dilapis, sekarang tidak lagi," pungkasnya.
Sama seperti para pelaku usaha lainnya, Iksan berharap agar perang segera selesai dan harga plastik kembali normal. (Martha)