Ketua PSMTI Mimika: Tradisi Angpao Bukan Sekadar Bagi-Bagi
Papua60detik - Masyarakat umum biasanya memandang perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan pembagian angpao. Amplop berwarna merah tersebut memang menjadi daya tarik khususnya bagi anak-anak yang menantikan setiap tahun.
Lalu bagaimana masyarakat Tionghoa memandang tradisi bagi-bagi angpao?
Ketua PSMTI Kabupaten Mimika, Gunawan menjelaskan bahwa perayaan Imlek tidak selalu tentang pembagian angpao. Bagi masyarakat Tionghoa, tradisi bagi-bagi angpao memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar memberi uang kepada anak-anak.
Ia mengatakan, pembagian angpao harus dipahami sebagai bagian dari pendidikan budaya, ucapan syukur dengan cara berbagi.
"Kalau kita membagi angpao, tujuannya kita untuk mendidik mereka tentang budaya, ucapan syukur. Jadi bukan sekadar bagi-bagi," kata Gunawan saat diwawancarai, Selasa (17/02/2026).
Dalam budaya Tionghoa, angpao yang biasanya diberikan kepada anak-anak merupakan simbol doa dan harapan baik. Namun, sebelum menerima angpao, anak-anak diajarkan untuk melakukan "pai" atau sikap hormat kepada orang yang lebih tua.
Tradisi "pai" sendiri memiliki tata cara tertentu. Untuk anak kepada orang tua atau yang lebih senior, kedua tangan diangkat sejajar atau lebih tinggi dari kepala sebagai tanda hormat. Sementara untuk sesama atau kepada yang lebih muda, posisi tangan cukup di depan dada.
"Kita ajar mereka, harus menghormati orang tua. Jadi mereka harus pai dulu. Jadi gak bisa kasih kayak begini, terima kayak dia jatah sembako. Tidak. Dia harus datang ke orang tua dan hormat. Pai. Harus. Bahwa dia menghormati orang tua," terangnya.
Gunawan menegaskan bahwa pemberian angpao bukanlah kewajiban orang yang lebih tua, melainkan bentuk balasan atas sikap hormat dan pengertian anak terhadap tradisi. Jika seorang anak tidak menunjukkan sikap hormat, maka ia tidak akan diberikan angpao. Hal ini bertujuan untuk memberi pembelajaran pada anak agar memahami pentingnya etika dan tata krama dalam kehidupan bermasyarakat.
"Angpao ini bukan kayak orang bagi sembako, tidak. Ini tradisi. Anak yang tidak tahu tradisi, tidak tahu menghormati orang tua, tidak dikasih. Karena dia tidak tahu aturan, nanti dia bisa bermasalah di masyarakat. Dia tidak tahu menghormati orang tua, apalagi menghormati orang lain," pungkasnya.
Dikutip dari berbagai laman resmi, pemberian angpao juga memiliki aturan. Seperti, tidak boleh diisi dengan angka 4 . Dalam tradisi Tionghoa, angka 4 menjadi angka yang dihindari. Sebab, dalam bahasa Mandarin, angka 4 memiliki pelafalan yang sama dengan kata 'mati'.
Selain iti, angpao juga tidak boleh diisi dengan nomor ganjil dan tidak boleh dititipkan. Angpao harus diberikan langsung kepada penerima.
Tahun ini atau tahun kuda api, PSMTI Kabupaten Mimika merayakan hari tahun baru china ke-2577 dengan mengadakan festival pasar Imlek selama tiga hari di Jalan Budi Utomo. Festival ini pertama kalinya dilakukan di Timika . Gunawan berharap, ke depan akan ada lagi festival yang lebih besar. (Martha)