Masuk Masa Prapaskah, Pastor Ricky Ajak Umat Peduli Krisis Sosial & Lingkungan
Misa perayaan Rabu Abu di gereja Katedral Timika, foto: Martha/Papua60detik
Misa perayaan Rabu Abu di gereja Katedral Timika, foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik - Umat Katolik memasuki masa Prapaskah ditandai dengan misa perayaan Rabu Abu, ibadah yang mengawal masa sakral 40 hari perjalanan pertobatan, puasa, dan pembaruan iman, Rabu (19/2/2026).

Pada misa pertama di gereja Katedral Tiga Raja, Timika, yang dipimpin oleh Pastor Ricky Carol Yeuyanan, menegaskan dalam homilinya bahwa perayaan Rabu Abu bukan hanya menjadi penanda dimulainya masa Prapaskah, tetapi juga momentum refleksi atas situasi sosial dan ekologis yang sedang terjadi. 

Masyarakat juga dipertontonkan dengan rusaknya alam, deforestasi, intimidasi, dan lain-lain. 

Oleh karena itu, menurutnya, masa prapaskah ini bukan hanya menjadi masa pertobatan pribadi, tetapi juga harus bisa memberi dampak positif bagi sesama dan alam. Ia menyebut, berbagai kasus yang terjadi merupakan teriakan dalam kesunyian meminta pertolongan manusia sebagai umat Allah. 

"Kita ingat iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Relasi yang diperbaiki secara pribadi dengan Tuhan tetapi tidak punya dampak terhadap alam, tidak menyelamatkan orang lain. Kita terlalu egois jika hanya memperbaiki kerohanian kita tanpa melihat keselamatan orang lain," ujar Pastor Ricky. 

Baru-baru ini, situasi di Kapiraya juga sedang memanas. Ia menyebut, kehidupan yang terjaga dari dulu, relasi yang harmonis, kini menjadi rebutan dan menciptakan keributan. Selain itu, muncul berbagai kesimpulan dan penilaian dari berbagai pihak yang turut memanas-manasi. 

Pastor pun menegaskan bahwa perang tidak menyelesaikan apa-apa. Menurutnya, apabila konflik itu tentang menjaga martabat dan harga diri, itu adalah soal mulia. Berarti penyelesaiannya harus dilakukan dengan cara yang lebih mulia. 

"Jika ada pihak ketiga yang berusaha merusak keamanan di sana, maka Seruan hari ini adalah pertobatan. Terutama bagi mereka yang bergerak dari kerakusan dan merusak semua hal yang sudah baik," ucapnya.

Oleh karena itu, Pastor Ricky mengatakan selain pertobatan pribadi, umat juga diajak untuk melakukan pertobatan ekologis, menjadi perjalanan dan perenungan bersama di masa prapaskah ini. Apa yang diharapkan adalah manusia bisa lebih mencintai diri sendiri, sesama, dan alam ciptaan di Tanah Papua. 

"Masa pantang dan puasa ini mengajak kita untuk semakin bersuara terhadap nilai kemanusian yang makin patah dan pincang, bersuara bagi alam yang adalah ibu bagi kita yang tiap hari makin terancam dan dirusak," pungkasnya. (Martha)