Nataru Kali ini, Pedagang Daging Babi Mengaku Merugi
Papua60detik - Pedagang daging babi di Pasar Sentral Timika mengaku merugi pada momen hari raya Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini.
Menurut pedagang, pangkal soalnya masih wabah virus African Swine Fever (ASF). Karena wabah ini, populasi babi menurun drastis. Peternak babi pun menjualnya dengan harga jauh lebih tinggi.
Baca Juga: Bakal Diresmikan Menkop, Koperasi Merah Putih di Atuka Diproyeksi Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
Tahun ini, karena virus ASF, harga babi disepakati Rp200 ribu per kilo. Kesepakan itu berdasarkan pertemuan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) dengan para peternak dan pedagang daging babi.
Seorang pedagang daging babi, Aris lantas mengeluh. Dibandingkan tahun lalu, pendapatannya jauh menurun. Menurut pedagang, harga yang ditetapkan Disnakeswan tidak sepadan dengan harga beli babi dari peternak.
Stok daging babi di lapak pedagang babi di pasar akhirnya sepi. Banyak pedagang memutuskan tidak menjual daging babi. Mereka tidak mau ambil risiko dengan harga babi yang dipatok peternak sangat mahal.
"Kemarin banyak teman-teman tidak jualan. Kita ada 24 orang pedagang babi, tetapi yang jualan cuma lima orang. Karena kalau kita ikuti harga dari dinas, modal kita tidak kembali, terlalu berisiko," kata Aris saat diwawancarai, Kamis (02/01/2024).
Apalagi ditambah pasar murah yang digelar oleh pemerintah. Di mana pada giat tersebut pemerintah menyediakan daging babi dengan harga subsidi, hanya Rp100 ribu sekilo.
Kata Aris, para peternak juga memanfaatkan kesempatan ini untuk menaikkan harga babi dan menjualnya ke pembeli dari luar dengan harga lebih tinggi.
"Yang biasnya harga babi Rp5 juta, dinaikkan menjadi 15 juta. Lain lagi babi yang besar. Karena keadaan ini, kami pun harus mengojek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," tambahnya.
Dengan semakin langkanya hewan babi, para pedagang daging babi sudah kehabisan stok. Mereka berharap musibah ASF ini segera berlalu sehingga aktivitas berjualan di pasar bisa normal lagi.
"Harapan kami, pemerintah bisa membantu kami. Selama virus ini, belum pernah dapat bantuan apa-apa. Kalau bisa kita dikasih satu pasang babi biar bisa juga kami pelihara," harapnya. (Martha)