SLB Negeri Mimika Punya Produk Roti dan Kue, Mulai Dipasarkan
Papua60detik - Sekolah Luar Biasa Negeri Mimika, mendatangkan chef dari Sulawesi Selatan melatih siswa kelas tata boga membuat roti dan kue. Kelas ini diisi oleh siswa tunarungu dan tunagrahita.
Sebanyak 8 siswa yang jadi peserta pelatihan ini kini memiliki keterampilan membuat roti. Karya mereka dipamerkan dan jadi bazar Pada perayaan Hari Pendidikan Nasional, Jumat (02/05/2025).
Kepala SLB Negeri Mimika, Sunardin mengatakan pelatihan ini berlangsung selama 6 hari. Menurutnya, dalam waktu singkat tersebut, anak-anak memiliki daya tangkap yang baik dan langsung bisa mempraktikkannya.
Sekolah juga telah mempromosikan hasil karya anak anak anak di media sosial dan juga di grup orang tua. Hasilnya, banyak yang langsung memesan bahkan ada yang mengajak bermitra hingga dari Nabire.
"Banyak yang pesan, tapi kita tunggu dulu, hari ini promo dulu, ke depan akan produksi terus menerus karena ilmu ini akan sia-sia kalau tidak berkelanjutan," ujar Sunardin saat diwawancarai usai Perayaan Hardiknas kemarin.
Adapun brand roti dan kue buatan siswa SLB adalah Sibi Bakery. Nama itu terinspirasi dari bahasa isyarat yang dikembangkan untuk menyesuaikan dengan struktur bahasa Indonesia dan digunakan di SLB.
Rencananya, sekolah akan memasarkan hasil karya siswa dengan membuat kios. Kemudian sekali sebulan akan diadakan pameran di pagar kuning supaya masyarakat luas tahu ternyata SLB bisa berkarya.
"Kami memberikan semangat dan pengetahuan baru kepada siswa bahwa ternyata apa yang dikerjakan di pelatihan itu bisa dipasarkan, sehingga secara tidak langsung jiwa wiraswasta terbangun dalam diri mereka. Mungkin ini jalan Tuhan bagi mereka bahwa mereka bisa diterima oleh masyarakat," terangnya.
Sementara, Chef Alan yang memberikan pelatihan pada anak SLB, mengaku kagum dengan kemampuan anak-anak. Menurutnya, daya tangkapnya sangat cepat dan memiliki minat dalam pembuatan roti dan kue.
Ia mengaku sempat ragu saat sekolah mengundangnya untuk memberikan pelatihan. Ia tidak yakin bisa melatih siswa SLB, karena biasanya ia melatih anak SMK. Sekolah kemudian membantunya dengan mempersiapkan satu guru pendamping untuk menerjemahkan ke bahasa syarat.
"Pengalaman saya beberapa hari ini, mereka ini sangat luar biasa. Saya pikir, kalau mereka tamat sekolah, kemungkinan bisa buka usaha bisnis," ujarnya.
Rasa senang juga dirasakan oleh, Bagus, salah satu siswa tunarungu. Ia mengatakan membuat kue dan roti adalah hobbynya. Bagus banyak belajar dan bercita-cita ingin membuka usaha roti setelah tamat.
"Rasanya bahagia. Kami belajar bersama-sama membuat roti yang enak dan lezat," kata Bagus melalui bahasa isyarat. (Martha)