John Stingal Beanal: Soal Besi Tua Freeport Sebaiknya Diselesaikan Lewat Dialog
Direktur Eksekutif Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa), John Stingal Beanal, foto: Martha/ Papua60detik
Direktur Eksekutif Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa), John Stingal Beanal, foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Direktur Eksekutif Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa), John Stingal Beanal, menanggapi polemik tata kelola besi tua atau bekas PT Freeport Indonesia (PTFI)

Ia menjelaskan, pengelolaan besi bekas yang berasal dari PTFI berada di bawah tanggung jawab dua lembaga adat, yaitu Lemasa dan Lemasko. Setelah dihibahkan, kepada kedua lembaga tersebut, kemudian menunjuk pihak ketiga yakni PT Elhama, untuk melakukan pengelolaan berdasarkan kontrak kerja yang masih berlaku hingga saat ini.

Oleh karena itu, John Stingal mengimbau semua pihak agar mengutamakan jalur dialog dalam menyelesaikan persoalan terkait pengelolaan besi tua tersebut.

"Kami ingin menyampaikan bahwa kewenangan pengelolaan besi bekas telah diberikan kepada kedua lembaga adat. Karena itu, penyelesaian persoalan ini sebaiknya dilakukan melalui komunikasi dan musyawarah bersama lembaga adat," ujar John, Senin (08/06/2026). 

Sebagai bentuk itikad baik, Lemasa telah menawarkan solusi skema pembagian hasil dari penjualan besi bekas guna mendukung berbagai kebutuhan operasional dan pemberdayaan masyarakat adat.

Langkah tersebut katanya, sebagai upaya mencari jalan tengah yang dapat memberikan manfaat bagi semua pihak tanpa mengabaikan aspek hukum dan kontrak antara Lemasa dan pihak pengelola yang sedang berjalan.

"Kami sudah menawarkan mekanisme pembagian hasil sebagai solusi. Prinsipnya, kami ingin semua pihak merasakan manfaat dari pengelolaan sumber daya yang ada, namun tetap harus menghormati perjanjian kerja sama yang masih berlaku," katanya.

Ia menambahkan, selama kontrak dengan pihak pengelola masih berjalan, lembaga adat harus menjaga komitmen dan kredibilitasnya. Meski demikian, ia membuka ruang komunikasi seluas-luasnya untuk membahas berbagai kemungkinan kerja sama di masa mendatang setelah seluruh kewajiban dalam kontrak yang ada terpenuhi.

"Lembaga adat selalu terbuka untuk berdiskusi. Kami berharap setiap persoalan dapat diselesaikan melalui dialog yang baik, sehingga hubungan kemitraan dan persaudaraan sesama masyarakat adat tetap terjaga," terangnya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga stabilitas dan kenyamanan di wilayah operasional PTFI. Katanya, keberadaan PTFI telah memberikan kontribusi melalui berbagai program pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Yang paling penting adalah duduk bersama, membangun komunikasi, dan mencari solusi yang saling menguntungkan demi kepentingan masyarakat adat ke depan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga suasana yang kondusif," pungkasnya. (Martha)