Kamis Pagi, Rupiah Menguat Jadi Rp17.941 Per Dolar AS
Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj/am.
Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj/am.

Papua60detk - Nilai tukar rupiah pada Kamis (11/6/2026) pagi bergerak menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.941 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan rupiah seiring kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia mereda.

“Kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia mereda seiring pelemahan harga minyak global, sementara keputusan pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga BBM (Bahan Bakar Minyak) Pertamax turut mengurangi tekanan terhadap keseimbangan fiskal,” ucapnya seperti dikutip dari ANTARA.

Perkembangan tersebut dinilai memperkuat ekspektasi defisit fiskal akan lebih terkendali, sehingga memberikan dukungan bagi rupiah maupun pasar obligasi domestik.

Rupiah juga terus memperoleh manfaat dari semakin kuatnya transmisi kebijakan kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang diumumkan sehari sebelumnya, karena keputusan tersebut meningkatkan daya tarik imbal hasil aset domestik.

Melihat sentimen global, inflasi umum AS meningkat menjadi 4,2 persen year on year (yoy) pada Mei 2026, sejalan dengan ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 3,8 persen yoy.

Menurut dia, kenaikan ini menandai percepatan inflasi umum selama tiga bulan berturut-turut, terutama didorong oleh lonjakan harga energi sebesar 23,5 persen yoy di tengah berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah.

Kendati demikian, secara bulanan inflasi umum melambat menjadi 0,5 persen month on month (mom) dari 0,6 persen mom pada bulan sebelumnya, sesuai dengan konsensus pasar. Sementara itu, inflasi inti hanya meningkat tipis menjadi 2,9 persen yoy dari 2,8 persen yoy pada bulan sebelumnya.

Secara bulanan, lanjut Josua, inflasi inti bahkan melambat menjadi 0,2 persen mom dari 0,4 persen mom, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,3 persen mom.

“Data tersebut mengindikasikan bahwa tekanan inflasi yang bersumber dari kenaikan harga energi terhadap tingkat harga secara keseluruhan tidak sekuat yang sebelumnya dikhawatirkan. Oleh karena itu, investor sedikit mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, meskipun kenaikan suku bunga sebesar 25 bps (basis points) pada Desember 2026 masih fully priced in,” ungkap dia.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.900–Rp18 ribu per dolar AS. (Redaksi)