Lansia Berdaya, Indonesia Jaya
Petugas medis memeriksa kesehatan seorang lansia pada program cek kesehatan gratis di Denpasar, Bali, Jumat (29/5/2026). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym.
Petugas medis memeriksa kesehatan seorang lansia pada program cek kesehatan gratis di Denpasar, Bali, Jumat (29/5/2026). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym.

Papua60detik - Setiap 29 Mei, Indonesia memperingati Hari Lanjut Usia Nasional. Tanggal ini tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni penghormatan kepada generasi tua, melainkan menjadi penanda perubahan cara negara memandang lansia: dari objek bantuan menjadi subjek pembangunan.

Bangsa yang besar bukan hanya mampu menumbuhkan generasi mudanya, melainkan juga menjaga martabat warganya, hingga usia senja.

Akar sejarahnya merujuk pada dr KRT Radjiman Wedyodiningrat, tokoh senior yang pada usia 66 tahun memimpin sidang BPUPKI pada 29 Mei 1945. Dari sana, pesan pentingnya tetap sama: usia lanjut bukan akhir dari kontribusi. Lansia menyimpan memori sosial, etika kerja, ketenangan berpikir, kearifan keluarga, dan daya lenting bangsa.

Indonesia menghadapi perubahan demografi. Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia telah memasuki era penduduk tua sejak 2021. Sekitar 12 persen atau 29 juta penduduk Indonesia merupakan lansia, dan proporsinya diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 20 persen pada 2045. Angka ini menunjukkan bahwa isu lansia bukan urusan belas kasihan musiman, melainkan agenda pembangunan nasional.

Pemerintah memiliki landasan penting melalui Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan. Arah kebijakan ini sudah tepat karena menempatkan lansia dalam kerangka perlindungan sosial, peningkatan kesehatan, masyarakat ramah usia, penguatan kelembagaan, dan pemenuhan hak. Ukuran keberhasilannya bukan hanya dokumen nasional, melainkan kemampuan daerah mengubahnya menjadi layanan yang mudah dijangkau keluarga.

Pemberdayaan lansia perlu dimulai dari perubahan cara pandang. Lansia bukan beban keluarga. Mereka adalah warga negara yang memiliki hak, pengalaman, suara, dan potensi. Sebagian membutuhkan perawatan intensif, tetapi sebagian lain masih produktif: mengajar, berdagang, bertani, menulis, menjadi mentor UMKM, mengasuh cucu, memimpin komunitas, atau menjaga nilai sosial. Kebijakan seragam akan gagal membaca keragaman ini.

Lansia Produktif

Di sebuah bangsa yang terburu-buru memuja usia muda, kisah lansia produktif sesungguhnya adalah koreksi moral nan lembut. BJ Habibie, setelah tidak lagi menjabat presiden, tetap menyalakan obor ilmu, teknologi, dan demokrasi; di usia 70-an ia menulis Habibie dan Ainun, bukan sekadar memoar cinta, melainkan arsip batin tentang kesetiaan, kehilangan, dan pengabdian. Jauh sebelumnya, Radjiman Wedyodiningrat memimpin sidang BPUPKI pada usia 66 tahun, seolah mengingatkan bahwa fondasi republik juga dibangun oleh kepala yang matang oleh pengalaman.

Dari dunia, Nelson Mandela dilantik sebagai Presiden Afrika Selatan saat berusia 75 tahun dan mengubah luka apartheid menjadi jalan rekonsiliasi; Mahathir Mohamad kembali memimpin Malaysia pada usia 92 tahun; sementara Grandma Moses baru menemukan panggung seni dunia, setelah mulai serius melukis pada usia 77 tahun. Mereka berbeda zaman dan bangsa, tetapi membawa pesan yang sama: produktivitas lansia tidak selalu berarti bekerja lebih keras, melainkan tetap berguna, bernalar jernih, merawat harapan, dan mewariskan arah.

Dari Jepang, Indonesia dapat belajar tentang perawatan terpadu berbasis komunitas, yang menyatukan layanan medis, perawatan jangka panjang, pencegahan, dukungan harian, dan hunian agar lansia tetap tinggal di lingkungan akrab. Dari Taiwan, pelajaran pentingnya adalah sistem perawatan jangka panjang yang memperkuat layanan rumah dan komunitas, sehingga beban keluarga tidak berdiri sendiri.

Dari Finlandia dan Jerman, Indonesia dapat menyerap semangat penuaan aktif: lansia tetap diberi ruang belajar, bergerak, bekerja fleksibel, dan berpartisipasi sosial. Dari Amerika Serikat dan Australia, ada pelajaran tentang perlindungan hukum, dukungan bagi pengasuh keluarga, layanan komunitas, nutrisi, serta pencegahan kekerasan. Indonesia tidak perlu menyalin seluruh model itu. Prinsip besarnya jelas: layanan dekat rumah, dukungan keluarga, ruang partisipasi, perlindungan hukum, dan penghormatan martabat.

Modal Sosial Indonesia

Indonesia memiliki modal sosial yang kuat. Posyandu lansia, puskesmas, kader kesehatan, PKK, karang taruna, rumah ibadah, banjar, pesantren, kampus, dan organisasi profesi dapat menjadi simpul masyarakat ramah lansia. Posyandu lansia tidak perlu berhenti pada timbang badan dan cek tekanan darah. Ia dapat menjadi pintu deteksi dini demensia, depresi, risiko jatuh, malnutrisi, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, kesepian, kerentanan ekonomi, dan kekerasan domestik.

Kader tidak menggantikan tenaga medis, tetapi dapat menjadi mata dan telinga pertama keluarga dan puskesmas. Prioritas daerah sebaiknya sederhana: pendataan lansia rentan, skrining risiko jatuh dan demensia, dukungan bagi pengasuh keluarga, akses cepat ke puskesmas, serta bantuan alat dengar, kacamata, tongkat, kursi roda, atau modifikasi rumah.

Filosofi Ikigai dari Jepang dapat diterjemahkan sebagai alasan untuk terus hidup bermakna. Bagi lansia Indonesia, Ikigai perlu membumi. Ia hadir dalam peran harian sederhana: menyiram tanaman, mengajari cucu membaca, menulis kisah keluarga, menjaga warung kecil, menjadi penasihat kelompok tani, atau memimpin kegiatan warga.

Ikigai versi Indonesia bertumpu pada lima kebiasaan: memiliki tujuan harian, tetap bergerak aman, makan cukup dan beragam, merawat relasi sosial, serta tetap dilibatkan dalam keputusan tentang diri sendiri. Keluarga pun perlu belajar ulang. Berbakti kepada orang tua tidak sama dengan mengambil seluruh kendali hidup mereka. Merawat lansia berarti melindungi tanpa memenjarakan, mendampingi tanpa merendahkan, dan membantu tanpa menghapus otonomi.

Ujung Tombak Daerah

Pemerintah daerah perlu memiliki peta lansia sebagai dasar alokasi anggaran desa, desain layanan puskesmas, program kunjungan rumah, dan prioritas bantuan sosial. Dari peta itu lahir kebijakan yang lebih presisi: rumah aman dari risiko jatuh, trotoar ramah usia, antrean prioritas, transportasi terjangkau, klinik geriatri, dapur lansia, kelas digital, koperasi lansia, dan forum lintas generasi.

"Lansia Berdaya, Indonesia Jaya" adalah ukuran kematangan pembangunan. Pemberdayaan lansia bukan biaya sosial, melainkan investasi sosial. Bila warga senior diberi ruang untuk sehat, belajar, bekerja, berbagi, dan tetap dicintai, Indonesia tidak sekadar menjadi bangsa yang menua, tetapi bangsa yang matang dalam merawat seluruh usia kehidupan. (ANTARA - dr Dito Anurogo)

*) dr Dito Anurogo, alumnus PhD IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, peneliti, reviewer jurnal Internasional, penulis-trainer profesional.