Petani Keluhkan Harga Panen Rendah, Warga Keluhkan Harga di Pasar Tinggi
Papua60detik - Masih menjadi pertanyaan mengapa petani merasa harga jual hasil kebun yang tidak sebanding dengan harga modal yang dikeluarkan.
Di lain sisi, masyarakat juga mengeluh harga komoditas pangan yang mahal di pasar. Misalnya cabai. Salah satu petani di SP 6 Naena Muktipura mengaku, 1 Kg cabainya dihargai tengkulak Rp55 ribu. Jauh berbeda dengan harga di pasar Rp100 ribu, bahkan beberapa bulan lalu mencapai Rp120 ribu per kilogram.
Baca Juga: Bakal Diresmikan Menkop, Koperasi Merah Putih di Atuka Diproyeksi Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Mimika, Yulius Koga mengatakan permasalahan-permasalahan seperti itu biasanya ada indikasi permainan harga dari tengkulak atau pengepul.
Hal itu juga sudah pernah Yulius sampaikan ke dinas terkait, apabila mereka mempunyai petani binaan, hasil panennya bisa didistribusikan langsung ke kios pangan milik DKP Mimika.
Adapun kios pangan ini sudah berjalan sejak tiga tahun lalu. Kios pangan ini juga menjadi wadah bagi produk yang dihasilkan oleh komunitas binaan dari dinas terkait. Misalnya komunitas tani dari Dinas Pertanian, komunitas ayam petelur dari Dinas Peternakan, dan komunitas binaan di bidang pengolahan makanan dari komoditas pangan lokal.
"Kita punya kios tujuannya itu. Memutus rantai yang sering prosesnya panjang dari petani ke pemasok, terus ke pasar, ini kami putus. Jadi dari petani langsung ke sini dengan harga yang ada di pasar," ujar Yulius Koga saat diwawancai, Jumat (17/10/20205).
Yulius juga berencana akan mensosialisasikan terkait distribusi hasil panen ini ke para petani di SP6 saat gerakan pangan murah di sana.
Katanya, sebenarnya selama ini, ada distributor di SP6 yang bekerja sama dengan DKP. Namun, apabila memang ada indikasi permainan harga dengan para petani di sana, Yulius akan mempertimbangkan kerja sama tersebut.
"Nanti akan saya cari tahu kalau memang ada seperti itu. Petani rica di sana banyak, nanti hubungi kita jangan kasih dulu ke distributor. Kadang-kadang permainan harga ada di distributor. Susahkan? Makanya kita harus bikin kerja sama dengan para petani," tambahnya.
Selain itu, ia mengimbau para petani agar langsung membawa hasil panennya ke kios pangan yang ada di jalan Poros SP2-SP5 dekat dengan kantor Dinas Ketahanan Pangan. Apabila hasil panennya banyak, bisa langsung menghubungi DKP untuk melakukan penjemputan hasil panen.
"Nanti tolong sosialisasikan juga. Kalau ada petani rica, komunikasi datang ke kita, sayuran juga bisa. Kalau mereka punya komunitas, coba ketua kelompoknya datang ke sini," pungkasnya. (Martha)