30 Guru Mimika Dilatih Merevitalisasi Bahasa Kamoro
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Willem Naa pada pelatihan yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Papua di SMA YPPK Tiga Raja (9/5/2023).  Foto:Eka/Papua60detik
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Willem Naa pada pelatihan yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Papua di SMA YPPK Tiga Raja (9/5/2023). Foto:Eka/Papua60detik

Papua60detik - Sebanyak 30 guru utama di Timika mengikuti pelatihan Revitalisasi Bahasa Kamoro yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Papua. 

Kegiatan yang dilaksanakan di SMA YPPK Tiga Raja Timika pada Selasa (9/5/2023) itu dalam rangka Implementasi Perlindungan Bahasa daerah di Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tengah. 

Kepala Balai Bahasa Provinsi Papua Sukardi Gau mengatakan, 60 hingga 70 persen bahasa daerah di Indonesia ada di Papua. 

Kenapa penting bahasa daerah dilestarikan? Sukardi memberi gambaran jika hutan gundul ataupun rusak maka bisa diperbaiki dengan menanam kembali bahkan tumbuh lagi, sedangkan bahasa daerah jika hilang maka perlu ribuan tahun agar ada bahasa baru. 

"Kenapa urusan bahasa daerah ini penting, di Indonesia ini jumlah bahasa daerah ada 718 bahasa daerah, sebagian besar ada di Papua," katanya.

Perlindungan atau revitalisasi bahasa daerah katanya, merupakan lanjutan dan wujud dari program merdeka belajar episode 17 yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). 

"Ini merupakan sejarah bagi kami, karena dulu soal bahasa daerah ini tidak tersentuh," katanya. 

Ia memaparkan bahwa di Papua sendiri terdapat 428 bahas daerah, atau lebih dari setengah bahasa daerah di Indonesia ada di Papua.

"Persoalan tentang bahasa juga diatur dalam undang-undang nomor 24 tahun 2009 yang disalah satu pasalnya menyebutkan urusan pengembangan, pembinaan dan perlindungan bahasa daerah adalah tanggung jawab pemerintah daerah," jelasnya. 

Balai Bahasa Provinsi urusannya adalah bahasa negara, atau bahasa Indonesia. Pelatihan ini, katanya hanya memfasilitasi pemerintah daerah melestarikan bahasa daerah.

Salah satu cara melestarikan bahasa daerah menurutnya adalah melakukan pemodelan pembelajaran bahasa daerah, diikuti peraturan yang mewajibkan terkait dengan hal tersebut. Karena menurutnya Identitas Papua yang paling nyata adalah bahasa daerah dan itu perlu untuk di jaga. 

"Kegiatan ini dilakukan bukan bentuk menganaktirikan bahasa dengan memilih bahasa Kamoro, ini kegiatan lebih ke bentuk model atau percontohan agar nantinya bisa dilakukan oleh pemerintah dengan bahasa daerah suku di Mimika lainnya," terangnya. 

Selanjutnya, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Willem Naa mengatakan kemajuan teknologi menurutnya sudah menggeser kebudayaan di seluruh dunia termasuk Indonesia dan Papua.

Bahkan anak zaman sekarang hanya tahu dalam mendengar sedangkan untuk menyampaikan bahasa itu sendiri kesulitan.

"Kami pemerintah mengapresiasi kegiatan revitalisasi bahasa daerah yang digelar oleh balai bahasa Provinsi Papua. Dan kami mendukung apabila bahasa daerah bisa dimasukan ke dalam kurikulum atau muatan lokal," ujar Willem. 

Ia berharap, Mimika bisa menjadi yang pertama secara khusus Kamoro dan Amungme agar dua suku besar di Mimika itu dapat berjalan beriringan. 

"Dan kami nanti akan menyusun dan menyiapkan aturan soal bahasa daerah dimasukan ke dalam muatan lokal. Perda saat ini belum ada, jadi lembaga bahasa harus berkesinambungan," tuturnya. (Eka)