Asrama Putera SMPN Atuka Rusak dan Terbengkalai
Kondisi asrama putera SMPN Atuka Distrik  Mimika Tengah. Foto: Fachruddin Aji/Papua60detik
Kondisi asrama putera SMPN Atuka Distrik Mimika Tengah. Foto: Fachruddin Aji/Papua60detik

Papua60detik - Asrama putera Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Atuka Distrik  Mimika Tengah rusak parah dan terbengkalai. 

Kepala Sekolah SMPN Atuka, Silvester Atahena mengatakan, tak pernah lagi mendapat dana operasional asrama  dalam kurun waktu 5 tahun tidak lagi diberikan Pemerintah Kabupaten Mimika. 

Ia mengaku, tidak mengetahui alasan pasti mengapa anggaran untuk operasional  asrama tidak lagi diberikan. 

Asrama tersebut dibangun atas permintaan pihak sekolah dengan tujuan menampung para pelajar yang lokasi rumahnya jauh dari sekolah. Terutama para pelajar yang ke sekolah harus menggunakan alat transportasi laut. 

"Asrama putera itu dibangun pada tahun 2007, dan Pemkab Mimika mulai mengucurkan dana operasional untuk pertama kalinya pada tahun 2010, dan sejak itulah asrama mulai dihuni oleh anak-anak di bagian pesisir yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah," ujarnya.

Dana yang dikucurkan pada awal 2010 sebesar Rp 75 juta. meningkat menjadi Rp 100 juta selama tahun berjalan hingga pada tahun terakhir dana yang dikucurkan sebesar Rp112 juta. 

Dana operasional mulai tidak lagi berjalan sejak tahun 2017 hingga sekarang. 

Sejak tidak ada dana operasional, banyak anak-anak mulai keluar dari asrama. Pihak sekolah telah berupaya berkoordinasi dengan orang tua murid agar anak- anak tetap tinggal di asrama dengan ketentuan biaya asrama untuk makan minum ditanggung orang tua. 

Namun karena kondisi ekonomi, banyak orang tua yang tidak menyanggupi ketentuan tersebut.

"Terpaksa anak- anak yang dari kampung tetangga, kini mereka tinggal dengan keluarga yang berada  kampung Atuka dan  sekitar sekolah, sebagian tinggal bersama para guru pada rumah dinas yang disediakan," terangnya.

Ia hanya berharap pemerintah kembali merehabilitasi asrama agar kembali menampung siswa. 

Sementara berdasarkan data, Silvester mengatakan jumlah siswa secara keseluruhan yang ada di SMPN sebanyak 102 orang dengan jumlah guru sebanyak 9 orang dan 3 orang tata usaha. Proses belajar mengajar dilakukan tatap muka, namun dilakukan secara bergulir sesuai anjuran pemerintah yakni 50 persen dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. (Fachruddin Aji)