Bagaimana Nasib Pembelajaran Tatap Muka Ketika Kasus Covid-19 Naik Lagi?
Siswa SMK Negeri 3 Mimika di jam istirahat.  Foto: Anti/ Papua60detik
Siswa SMK Negeri 3 Mimika di jam istirahat. Foto: Anti/ Papua60detik

Papua60detik - Proses belajar tatap muka di Kabupaten Mimika sudah berjalan di semua sekolah sebagaimana instruksi pemerintah.

Di jenjang SD dan SMP memang masih menerapkan sistem 50 persen, tapi di tingkat SMA-SMK kini sudah 100 persen.

Keputusan ini diambil pihak sekolah karena hampir semua siswanya sudah menerima vaksin covid-19 dosis lengkap.

Khusus di SMK Negeri 3 Mimika, penerapan 100 persen baru berjalan sekitar 1 minggu karena sekolah ini adalah salah satu sekolah yang memiliki siswa paling banyak di tingkat menengah.

“Awal diizinkan tatap muka kan semua 25 persen, terus naik jadi 50 persen dan kemudian 70 persen. Tapi satu minggu ini kami coba 100 persen,” Kepala SMKN 3 Mimika, John Lemauk saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (29/1/2022).

Meski sudah menerapkan sistem 100 persen, namun sekolah tetap menerapkan protokol kesehatan. Wajib pakai masker dan cuci tangan. Siswa yang mengalami flu, batuk, dan memiliki suhu badan di atas 37 tidak diperkenankan masuk sekolah, mereka dianjurkan belajar dari rumah.

Ketentuan ini pun kata John berlaku di semua sekolah SMK maupun SMA yang ada di Kabupaten Mimika.

“Berlaku disemua sekolah. Karena kan kita ingin proses belajar tatap muka ini berjalan dengan baik,” tutur Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Mimika ini.

Adapun penerapan sistem 100 persen ini lanjut John tetap disituasikan dengan kondisi yang ada. Jika kasus covid-19 di Mimika mengalami peningkatan, maka semua sekolah akan kembali ke 50 persen bahkan jika memang tidak memungkinkan untuk melakukan belajar tatap muka, maka semua sekolah akan kembali belajar dari rumah.

Mimika memang sempat nol kasus, tapi per Rabu (26/1/2022) lalu, sudah sembilan kasus baru covid-19 ditemukan. Di beberapa kota di Pulau Jawa, temuan kasus covid-19 naik drastis.

John memastikan, sekolah akan tetap tunduk pada aturan yang dikeluarkan pemerintah daerah.

“Saya sampaikan juga ke teman-teman kepala sekolah lainnya untuk kita tetap mengacu pada situasi yang ada. Apabila kembali diinformasikan atau imbau bahwa ada peningkatan yang signifikan, maka saya akan kembalikan ke 50 persen bahkan bisa saja kembali ke sistem awal covid-19 yakni belajar dari rumah,” tegasnya.

Ia menilai proses belajar tatap muka memang memberikan peningkatan pengetahuan anak. Siswa lebih berkualitas. Sangat berbeda dengan belajar dari rumah yang menurutnya sangat tidak efektif karena dan bahkan membuat pengetahuan anak semakin menurun.

“Saya melihat sejak kembali belajar di sekolah anak-anak semakin baik. Artinya pengetahuan mereka meningkat. Kalau belajar di rumah kemarin kan banyak yang kadang tidak ikut karena ada yang memilih metode modul dan inikan guru susah pantaunya. Jadi sekarang lebih baik,” tutupnya. (Anti)