Di Era AI, Kalam Kudus Timika Hadirkan Xiangqi Asah Berpikir Kritis Siswa
Siswa dan guru bermain Xiangqi bersama pelatih di Imlek & Kalam Kudis Fair 2026, Foto: Martha/ Papua60detik
Siswa dan guru bermain Xiangqi bersama pelatih di Imlek & Kalam Kudis Fair 2026, Foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Di tengah kemudahan yang ditawarkan kecerdasan buatan (AI), Sekolah Kristen Kalam Kudus Timika menghadirkan inovasi pembelajaran melalui permainan strategi Xiangqi atau catur Mandarin.

Sekolah Kristen Kalam Kudus (KK) menjadi sekolah pertama di Timika yang menerapkan permainan tradisional yang telah mendunia ini. 

Ketua Yayasan Kalam Kudus Timika, Nining Lebang menyebut, program ini sebagai sarana memancing dan mengasah kemampuan berpikir kritis anak.

Menurutnya, Xiangqi bukan sekadar permainan strategi biasa. Permainan ini melatih cara berpikir anak, sekaligus mengandung nilai filosofi kehidupan. Anak-anak belajar mengatur strategi, berkolaborasi, bekerja sama, dan memahami nilai-nilai penting dalam setiap langkah dan keputusan.

"Setiap bidak pada catur itu punya makna dan langkah masing-masing. Apa yang harus dijaga, apa yang harus dikembangkan, kapan saatnya harus melangkah, kapan harus menahan diri. Kalau ini kita bawa di dalam dunia pendidikan, ini sangat erat kaitannya dengan critical thinking. Ini yang anak-anak harus miliki," terang Nining saat diwawancarai, Sabtu (28/02/2026). 

Nining menambahkan, dalam konteks pembelajaran, di era sekarang yang dimudahkan dengan kehadiran AI, siswa perlu dibekali permainan ini. AI telah menyediakan semua jawaban secara instan, sehingga muncul kekhawatiran bahwa generasi saat ini mengalami penurunan kemampuan berpikir. 

"Padahal kita manusia diciptakan Allah dan diberikan kapasitas, rasio, akal budi yang harus kita kembangkan. Jadi, dia hanya bisa berkembang kalau kita latih. Nah, sekarang melatihnya bagaimana? Salah satunya kita ingin anak-anak bermain catur," terangnya. 

Ia menjelaskan, sebenarnya, Xiangqi sudah diterapkan di sekolah sebelum masa Covid-19. Setelah pandemi, kegiatan ini sempat berhenti. Namun, dalam setahun terakhir program ini kembali dikembangkan. 

Sekolah juga mendatangkan pelatih Xiangqi dari luar  khusus untuk mengajar. Ke depan, program ini akan berada di bawah Departemen Mandarin.

"Jadi ini permainan sangat baik sekali. Kami khusus mendatangkan salah satu guru Xiangqi yang terlatih untuk mengajar anak-anak," pungkasnya. (Martha)