Melihat Keseruan Siswa SLB Saat Mengunjungi Kantor Basarnas Mimika
Anak-anak SLB saat belajar mendayung, Jumat (31/05/2024). Foto: Martha/Papua60detik
Anak-anak SLB saat belajar mendayung, Jumat (31/05/2024). Foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik - Kantor Basarnas Mimika mendapat kunjungan spesial dari Siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Mimika, Jumat (31/05/2024). Sebanyak 90 siswa datang bersama guru pembimbing untuk mengenal lebih dekat Basarnas.

Anak-anak tampak serius saat mengikuti materi tentang meminimalisasi dampak dan risiko bencana. Mereka juga diajari lagu mengenai langkah pertama saat terjadi gempa. Antusias mereka pun bertambah kala materi itu diberikan dalam bentuk video.

Anak-anak kemudian diajak mengenal dan berkesempatan mencoba peralatan keselamatan milik Basarnas Mimika yang sering digunakan pada saat operasi, mulai dari peralatan di perairan, peralatan SAR di ketinggian hingga kendaraan keselamatan darat. Mereka juga diajarkan bagaimana menggunakan life jacket (baju pelampung), helm keselamatan dan cara mendayung untuk penyelamatan di air.

Kepala SLB, Sunardin menyebut kegiatan ini adalah salah satu rangkaian program kerja SLB. Program ini baru pertama kali dilakukan. Selain pengalaman, anak-anak setidaknya mengetahui ada tiga langkah yang harus dilakukan ketika ada gempa, seperti berlindung di bawah kolong meja, melindungi kepala dengan tas atau buku, serta keluar dari ruangan dan mencari tempat lapang.

"Tujuannya memberikan peserta didik  sosialisasi dan simulasi kepada peserta didik bagaimana penanganan ketika terjadi bencana. Anak-anak sangat antusias apalagi ini baru pertama kalinya kita buat. Mungkin selama ini mereka hanya melihat di televisi. Sekarang mereka lihat langsung, bahkan mencoba pelaratan yang dipakai Basarnas saat melakukan tugas," kata Sunardin, Jumat (31/05/2024).

Sebelumnya, pihak sekolah sudah sampaikan kepada pihak Basarnas supaya penyampaian materinya diperuntukkan bagi anak-anak disabilitas. Walaupun secara umum anak-anak bukan peserta tuna rungu.

"Kami minta agar penyampaian materinya lebih banyak ke video supaya mereka langsung paham. Dan kami guru membantu menyampaikan ke anak-anak terutama yang menggunakan bahasa syarat," tambahnya. 

Sementara Kepala Operasi Basarnas, Charles Batlajery, mengapresiasi pihak sekolah karena sudah membimbing siswanya untuk mengenalkan SAR agar memiliki kesadaran sejak dini tentang keselamatan.

"Memang sangat penting edukasi anak-anak sejak dini tentang bagaimana caranya untuk menghadapi bencana. Contohnya saat gempa bumi apa yang harus mereka lakukan. Kami sudah jelaskan tadi semua mulai dari pengenalan alat-alat. Dan anak-anak juga sudah mencoba alat tersebut," kata Charles. (Martha)