Orang Tua Siswa Mau Komplain, Jeni Usmani Sarankan Langsung ke Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Jeni O Usmani. Foto: Fachruddin Aji/Papua60detik
Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Jeni O Usmani. Foto: Fachruddin Aji/Papua60detik

Papua60detik - Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Jeni O Usmani menyarankan orang tua siswa siswa yang punya keluhan terkait sistem pembelajaran langsung melapor melapor ke Kantor Dinas Pendidikan.

"Jangan komplain di media karena kami tidak tahu dan itu tidak bisa dipakai sebagai acuan untuk kita mengkoreksi orang atau sekolah," kata Jeni, Jumat (8/1/2021).

Daripada komplain di medium lain, menurutnya, langsung ke Kantor Dinas Pendidikan akan jauh lebih bermanfaat. Jika isi kritiknya benar, Dinas Pendidikan bisa langsung menyarankan guru di sekolah bersangkutan mengubah model pembelajaran.

"Tapi selama ini kan tidak ada yang komplain," ujarnya.

Melanjutkan belajar dari rumah secara online atau kembali ke pembelajaran tatap muka seperti dulu memang sedang hangat diperbincangkan.

Jeni sendiri mengakui pembelajaran offline atau tatap muka lebih baik. Pendapatnya mungkin sama saja dengan kebanyakan orang.

Ia mengatakan, sejatinya peran guru tidak dapat digantikan oleh teknologi. Tetapi hal tersebut tidak terhindarkan ketika pademi covid-19 seperti saat ini.

"Kalau ada yang bilang keberadaan guru bisa digantikan oleh teknologi itu berarti dia tidak paham dengan pendidikan," katanya, Jumat (8/1/2021)

Menurutnya, pembelajaran dengan sistem online tidak selalu efektif. Pembelajaran perlu timbal balik, respon siswa adalah cara guru mengetahui kemampuan siswanya.

Teknologi hanya pendukung. Pendidikan dan pengajaran tidak bisa dipisahkan, dalam arti, pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan tetapi juga penanaman nilai. Dari dimensi ini harus terjadi langsung antara guru dan siswa.

Pembelajaran online, menurut Jeni tidak akan sepenuhnya berhasil membuat anak paham tentang materi yang diberikan guru. Hanya saja dalam situasi covid-19 ini, cara itu menjadi salah satu yang paling bisa dilakukan.

"Misalnya ujian, dalam online tidak bisa dijamin bahwa anak mengerjakan tugas modelnya seperti apa," katanya.

Sebab itu ia menganjurkan pemberian tugas tetap secara manual. Paling tidak, dengan cara manual guru tetap bisa mengontrol siswanya.

"Karena anak itu pasti dia baca, kerja lalu kembalikan, gurunya pasti kontrol, otomatis kalau dia baca, pasti dia ingat satu dua kata. Tapi kalau google mungkin dia absen lalu dia pergi ke tempat lain dan dibiarkan aplikasi itu aktif," kataya. (Fachruddin Aji)