Pendulang Angkat Bicara Soal Dalih Toko Emas Kehabisan Uang
Papua60detik - Koordinator pendulang emas tradisional Timika, Simon Rahanyaan, angkat bicara terkait polemik tutupnya sejumlah toko emas di Timika yang berdalih kehabisan uang.
Menurut Simon, alasan tersebut bukan hal baru. Ia menilai praktik kehabisan uang kerap muncul setiap kali harga emas mengalami kenaikan. Toko-toko emas, kata dia, sengaja menghentikan aktivitas pembelian untuk menekan harga di tingkat pendulang. Akibatnya, para pendulang yang telah bekerja keras di lapangan justru menjadi pihak yang paling dirugikan.
“Kalau harga emas naik, selalu muncul isu uang habis. Toko tutup, pendulang jadi korban, situasi kacau, baru kemudian harga diturunkan,” ujar Simon, Sabtu (28/2/2026) malam.
Untuk diketahui, setidaknya sudah tiga kali para pendulang memblokade jalan. Aksi tersebut dipicu kekecewaan karena toko emas yang biasa membeli hasil dulangan mereka selalu beralasan kehabisan uang.
Simon mengingatkan, aktivitas dulang berperan besar terhadap perputaran uang di Timika. Ia menyebut sekitar 8.000 hingga 10.000 orang menggantungkan hidup dari mendulang. Tak salah jika pendulang disebut salah satu motor ekonomi di Timika.
“Mereka ini investor terbesar di Mimika. Mereka pergi ke lokasi setengah mati cari emas, masa saat jual juga harus setengah mati. Itu saja harapan mereka,” katanya.
Ia menilai, jika rantai jual beli berjalan normal, maka situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) akan tetap kondusif tanpa aksi palang jalan atau gejolak. Namun, ketika terjadi permainan harga, dampaknya langsung dirasakan oleh para pendulang dan berpotensi memicu ketegangan.
Untuk meredam situasi, Simon mengaku telah mengimbau para pendulang agar membubarkan diri sementara waktu demi menjaga stabilitas keamanan. Ia berencana berkoordinasi dengan pihak kepolisian serta mencari investor baru yang siap menampung hasil dulang yang belum terjual.
“Malam ini saya koordinasi dengan polisi dan cari investor. Kalau ada, besok kita akomodir emas teman-teman yang belum laku,” ungkapnya.
Simon menegaskan bahwa tidak ada pihak yang menginginkan Mimika dalam kondisi kacau. Namun, ia mengingatkan bahwa persoalan ekonomi masyarakat, terutama menyangkut kebutuhan hidup, tidak bisa dianggap sepele. Ia mengingatkan, hal serupa pernah terjadi pada 2018 dan seharusnya tidak terulang kembali.
“Masalah perut tidak ada tawar-menawar. Ini pernah terjadi dan harusnya sudah selesai. Jangan lagi ada isu-isu uang habis yang merugikan pendulang,” pungkasnya. (Eka)