Potret Pendidikan Dasar di Pomako, Dewan: Memprihatinkan
Papua60detik - Komisi C DPRD Mimika saat berkunjung ke Sekolah Dasar Negeri 1 Pomako Distrik Mimika Timur, Kamis (14/9/2023). Mereka melihat langsung bagaimana kondisi yang ada di sekolah itu, mulai dari bangunan yang terlihat berbahaya karena banyak yang sudah lapuk. Kondisi plafon kelas hancur dan tidak ada pagar di sekolah yang dibangun di atas rawa itu.
Selain itu, Komisi C juga prihatin dengan siswa yang tak terlihat seperti data yang disampaikan kepala sekolah. Siswa SD itu sebanyak 300 anak namun faktanya, yang hadir saat itu hanya seperempatnya.
Kepala SD Negeri 1 Pomako, Alwan kepada komisi C mengatakan bahwa minimnya kehadiran siswa setiap hari karena mereka harus ikut orang tua bekerja.
"Kami pihak sekolah bersama guru-guru sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan peringatan dan imbauan bahkan kami datangi rumah orang tua mereka," ujar Alwan.
"Kami sudah coba berikan pemahaman agar anak-anaknya tetap aktif bersekolah, berbagai upaya sudah kami lakukan. Kami tidak tinggal diam dan malas tahu seperti itu, karena minimnya kesadaran orang tua ini yang juga jadi masalah sampai saat ini," paparnya.
Kata Alwan saat ini SD N 1 Pomako memiliki jumlah siswa 300 dengan tenaga pengajar atau guru berjumlah 19 orang.
Tak sedikit yang menjadi kendala para guru salah satunya yakni rumah dinas bagi guru, sampai sekarang hanya tersedia dua unit rumah, sedangkan kebanyakan guru tinggal Kota Timika.
"Rata-rata mereka semua tinggal di Timika sehingga harus numpang truk saat pergi dan pulang mengajar. Kalau bisa kami dibantu rumah guru sehingga lebih maksimal bila guru tinggal dekat lingkungan sekolah agar bisa ada tambahan ekstra kulikuler dan kegiatan tambahan lainnya diluar jam sekolah," ungkap Kepsek.
Setelah melihat langsung kondisi SD N 1 Pomako, Ketua Komisi C Aloysius Paerong mengatakan, sekolah tersebut tidak aman untuk siswa karena tidak ada pagar yang mengelilingi sekolah. Kondisi beberapa ruangan belajar sudah rusak dan tidak layak sehingga perlu perhatian pemerintah.
"Sepintas tadi kami Mendengar kalau masih ada siswa yang sudah kelas 3 dan 4 belum lancar membaca, hal ini sangat memprihatinkan. Percuma kalau fasilitas lengkap bagus dan mewah tapi masih ada siswa yang belum baca ini yang jadi persoalan besar. Tentunya persoalan ini harus kita carikan solusi, dan ini menjadi tanggung jawab kita semua termasuk komisi C," kata Aloysius.
Anggota Komisi C, Mariunus Tandiseno menegaskan salah satu solusi untuk menyelesaiakan persoalan pendidikan di pesisir Mimika polanya harus diubah menjadi asrama.
"Karena pendidikan di pesisir ini harus disesuaikan dengan kultur dan budaya orang pesisir, yaitu pendidikan bagi anak-anak Kamoro harus berbentuk pola asrama, hal ini untuk menjawab seringnya anak-anak yang mengikuti orang tua untuk mencari nafkah sehingga tidak pergi ke sekolah," terang dia.
Sedangkan Sekretaris Komisi C, Saleh Alhamid meminta agar seluruh keluhan dan kebutuhan yang dibutuhkan SD N 1 Pomako dibuat dalam sebuah laporan dan disampaikan secara tertulis, termasuk permasalahan masih adanya siswa yang belum bisa membaca padahal sudah kelas 3 dan 4.
"Kalau masih murid yang sampai sekarang belum bisa baca itu adalah dosa guru, karena itu memang sudah menjadi tugasnya. Masalah pendidikan di Mimika ini sudah berlangsung sejak lama dengan anggaran yang cukup besar namun masih saja belum berjalan baik, perlu diusulkan pembentukan pansus pendidikan," tegasnya. (Eka)