SD dan SMP di Timika Mulai Belajar Tatap Muka
Papua60detik - Sesuai keputusan Pemerintah Kabupaten Mimika, siswa kelas VI SD dan kelas IX SMP akhirnya kembali belajar tatap muka pada Senin (22/3/2021).
Dari pantauan Papua60detik di beberapa sekolah, terlihat tim satgas covid-19 sekolah menjaga penerapan protokol kesehatan dengan sangat ketat.
Mulai dari pemeriksaan suhu tubuh di depan gerbang sekolah kepada siswa maupun guru. Kemudian mengarahkan siswa mencuci tangan, mengeringkan tangan dan mengantar siswa masuk kedalam kelas. Semuanya dilakukan tim satgas covid-19 sekolah tanpa menyentuh siswa.
Namun sebelum siswa masuk dalam kelas, tim satgas akan memberikan arahan seperti tentang ditiadakannya jam istirahat, tidak boleh berpindah-pindah tempat duduk dan setelah sekolah semua harus langsung pulang ke rumah. Siswa dilarang mampir atau keluruyan setelah pulang sekolah.
Di SMP Negeri 2, sebelum siswa diperiksa suhu tubuhnya, mereka akan ditanya terlebih dulu apakah sudah sarapan atau belum. Jika siswa belum sarapan maka akan disuruh pulang.
“Kami yakinkan siswa harus sarapan di rumah baru masuk. Karena ini menjaga kondisi kesehatan. Kalau ada siswa yang sakit kami tidak izinkan masuk karena nanti ditakutkan bisa menyebabkan hal-hal yang mungkin akan mempengaruhi proses belajar,” kata Kepala Sekolah SMPN 2 Mimika, Mathius Sedan.
Adapun siswa yang ikut belajar tatap muka di SMPN 2 yakni 454 siswa atau 100 persen dari siswa kelas IX dengan dua shift pertemuan yakni kelompok A masuk Senin, Rabu dan Jumat. Sementara kelompok B masuk Selasa, Kamis dan Sabtu.
Setiap hari belajar tatap muka hanya berlangsung 4 jam untuk dua mata pelajaran.
“100 persen orang tua yang setuju untuk melakukan tatap muka karena belum ada pernyataan dari orang tua yang tidak setuju melakukan tatap muka,” ungkapnya.
Uniknya, tim satgas covid-19 SMPN 2 menggunakan rompi orange agar bisa dibedakan dengan guru yang akan mengajar.
Sementara itu, di SD Inpres Sempan Barat orang tua tidak diperbolehkan mengantar anak masuk di lokasi sekolah. Hanya cukup sampai di depan gerbang sekolah saja.
Di sekolah ini, orang tua yang tidak menggunakan masker akan diberikan masker sebagai edukasi agar mereka patuh prokes dimana dan kapanpun.
Seperti di SMPN 2, tim satgas covid-19 juga menanyakan kepada siswa soal sarapan sebelum memeriksa suhu tubuh.
SD Inpres Sempan Barat menyiapkan 4 ruang kelas. Masing-masing ruangan hanya diisi sekitar 16 siswa dan dua shift.
Di atas meja setiap siswa sudah disediakan hand sanitizer.
Namun dari 128 siswa kelas VI yang ada, hanya sekitar 89 orang tua yang sudah mengembalikan surat pernyataan setuju melakukan proses belajar tatap muka di sekolah. Selain belum mengembalikan, beberapa orang tua memang belum setuju dan tetap melakukan metode belajar online.
“Tapi sampai hari ini kami belum lihat lagi yang lain, apakah ada penambahan atau tidak. Ada beberapa orang tua yang masih minta belajar dari rumah karena masih takut. Ada yang anaknya karena ada penyakit bawaan,” kata Ketua Tim Satgas Covid-19 SD Inpres Sempan Barat, Yuliana Renyaan.
Di SD Negeri 5 Mimika yang berlamat di SP 2, dari 88 siswa kelas VI, hanya satu orang tua yang tidak setuju melakukan proses belajar tatap muka.
“Memang tadi ada laporan bahwa ada satu orang tua yang keberatan untuk tanda tangan surat pernyataan untuk dia punya anak tatap muka. Dia maunya harus online. Pada prinsipnya saya katakan kepada guru bahwa kita ikuti sesuai dengan permintaan orang tua. Yang setuju oke datang. Kalau tidak setuju tidak perlu datang,” kata Kepala Sekolah SDN V Mimika, Philipus Patianan. (Anti Patabang)