Sekolah Restorasi Jadi Alternatif Pembangunan SDM
Angkatan pertama sekolah restorasi di Merauke. Foto: Eman Riberu/ Papua60detik
Angkatan pertama sekolah restorasi di Merauke. Foto: Eman Riberu/ Papua60detik

Papua60detik - Anggota DPR Papua Fraksi Nasdem, Fauzun Nihayah mengatakan sekolah restorasi menjadi alternatif pembangunan sumber daya manusia (SDM) generasi muda di selatan Papua. 

Penggagas sekolah restorasi di Merauke ini mengungkapkan, lembaga pendidikan nonformal itu dibuka untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pengetahuan dan keterampilan. 

"Beberapa kali ke dapil, saya temukan anak-anak Papua saat diajak bicara, mereka minder, kurang percaya diri," kata Fauzun di acara penutupan sekolah restorasi periode Januari-Desember 2021 di Taman Wisata Wasur, Merauke, Sabtu (26/2/2022). 

Hal inilah yang kemudian mendorong Fauzun mendirikan sekolah tersebut. 

"Bukan karena kami dari partai politik, lalu semua terkait dengan isu-isu politik, tidak," ujarnya. 

Materinya terkait penguatan SDM, seperti public speaking, teknik lobi dan negoisasi, kewirausahaan, kepemimpinan dan organisasi, bahkan jurnalistik. 

"Kami meminta pengajar dari luar yang memang kompeten. Setelah setahun berjalan, akhirnya saya temukan banyak bibit yang sangat luar biasa," tuturnya. 

Kepala Sekolah Restorasi ini menyebut ada 60 an anak Papua yang mengkuti gelombang pertama. Untuk gelombang kedua akan dibuka Maret mendatang, dengan target 100 anak. 

"Alumnus mau agar ada sekolah alumni restorasi dengan fokus kewirausahaan, maka kami siap mentori mereka menjadi pengusaha muda," ujarnya. 

Fauzun menambahkan, sebagian besar peserta merupakan anak-anak muda Papua yang tengah kuliah di perguruan tinggi serta yang telah menyelesaikan pendidikan SLTA. 

"Selain dari Merauke, mereka ada yang dari Boven, Asmat dan Mappi. Materi diberikan sebulan sekali," imbuhnya. 

Sementara anggota DPR RI, Sulaeman L Hamzah, mengatakan ada tiga hal positif  yang diperoleh peserta sekolah restorasi, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

"Ketiga hal ini yang membawa kita jadi generasi emas di Tanah Anim Ha," kata Sulaeman usai menutup kegiatan sekolah itu. 

Salah satu peserta, Wati mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan ilmu dan pengalaman secara cuma-cuma dari sekolah tersebut. Pendaftaran dan fasilitas pun diberikan gratis atau secara Cuma – Cuma. 

"Dulu saya gugup berbicara di depan umum, sekarang bisa tampil dengan percaya diri. Banyak hal yang kami peroleh, termasuk bagaimana memulai wirausaha," kata dia. 

Wati menambahkan bahwa ia akan mengembangkan potensi dirinya untuk bersaing dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. (Eman Riberu)