SMP di Mimika Siap Belajar Tatap Muka
Papua60detik - Pemerintah Kabupaten Mimika telah mengizinkan sekolah melakukan pembelajaran secara terbatas untuk semua jenjang pendidikan.
Persiapan di masing-masing sekolah pun telah dilakukan. Mulai dari membentuk Pokja atau tim satgas covid-19 sekolah, menyediakan tempat cuci tangan yang cukup, hand sanitizer dan disinfektan di setiap ruang kelas. Jarak tempat duduk dalam ruang kelas diatur, hanya boleh diisi 25 persen dari jumlah siswa pada setiap rombongan belajar.
Ketua MKKS SMP di Mimika yang juga merupakan Kepala Sekolah SMPN 2 Mimika, Mathius Sedan mengatakan semua sekolah SMP, baik negeri maupun swasta telah menyatakan siap melakukan proses belajar tatap muka.
“Setelah kami rapat dengan kepala-kepala sekolah minggu lalu, kita semua siap untuk melaksanakan belajar tatap muka. Pokoknya 100 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (3/9/2021).
Adapun jumlah keseluruhan SMP yang ada di Kabupaten Mimika ada 57 sekolah.
Ia mengatakan belajar tatap muka sudah sangat dirindukan guru dan siswa. Ia mengakui belajar dari rumah tidak efektif.
“Selama ini kita melaksanakan belajar dari rumah kita tidak tahu kemampuan siswa sejauh mana,” ungkapnya.
Belajar tahap muka dijadwalkan akan dilakukan, Senin (6/9/2021) namun harus terap memperhatikan instruksi bupati karena semuanya harus melalui persetujuan pemerintah.
“Tapi kita ditegaskan bahwa jangan melaksanakan belajar tatap muka sebelum ada persetujuan dari bapak Bupati,” tegasnya.
Siswa yang diperbolehkan datang mengikuti belajar tatap muka adalah mereka yang sudah mendapatkan surat persetujuan dari orang tua. Jika orang tua belum setuju maka siswa tersebut akan tetap melakukan belajar secara online.
Khusus di SMPN 2 Mimika, masih ada sekitar 20 orang tua yang belum setuju anaknya belajar tatap muka.
Teknis belajar tatap muka pun diatur dengan baik. Sebelum lokasi sekolah siswa akan dicek suhu tubuhnya terlebih dulu. Kemudian diarahkan untuk cuci tangan dan masuk kelas dengan teratur.
Waktu belajarnya hanya 2 jam. Tidak ada jam istirahat, sehingga tidak ada waktu bagi siswa untuk bercengkrama dengan teman-temannya.
“Kita kan hanya 25 persen. Jadi dalam satu kelas itu rata-rata 8 orang saja. Dan setiap anak hanya 3 kali masuk sekolah, 3 harinya belajar dari rumah,” tuturnya. (Anti Patabang)