Angka Kematian Ibu & Bayi Papua Tengah Masih Tinggi
Papua60detik - Dinas Kesehatan Papua Tengah meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di delapan kabupaten guna memperkuat penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal sebagai upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di daerah tersebut.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Papua Tengah Yulianda Yeimo di Nabire, mengatakan angka kematian ibu dan bayi di Papua Tengah berdasarkan data Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) masih cukup tinggi.
“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan nakes menangani kegawatdaruratan maternal dan neonatal, serta memperkuat koordinasi rujukan dan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi," kata Yulianda pada Workshop Kewaspadaan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal, Senin (22/6/2026) seperti dikutip dari ANTARA.
Ia mengatakan, angka kematian ibu pada 2025 tercatat 151,57 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi mencapai 6,80 per 1.000 kelahiran hidup.
"Tingginya angka kematian maternal dan neonatal menunjukkan masih adanya berbagai tantangan dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi, mulai dari keterlambatan deteksi dini faktor risiko, keterlambatan rujukan, hingga penatalaksanaan kasus yang belum optimal di faskes," ujarnya.
Melalui workshop tersebut, nakes diberi materi terkait kebijakan kegawatdaruratan maternal dan neonatal, pencegahan infeksi, serta penanganan kegawatdaruratan obstetri.
Selain itu, nakes juga diberi pengetahuan sistem rujukan, kegawatdaruratan neonatal, resusitasi bayi baru lahir, simulasi kasus hingga penyusunan rencana tindak lanjut.
“Workshop diikuti 33 tenaga kesehatan dari Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, dan Mimika,” ujarnya.
Sekretaris Dinas Kesehatan Papua Tengah Obet Tekege mengatakan penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi salah satu langkah penting dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi, terutama di daerah dengan akses pelayanan kesehatan yang masih terbatas.
Menurut dia, pemerintah daerah terus melakukan penataan layanan kesehatan melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, penguatan sistem rujukan, serta penyediaan dukungan logistik kesehatan yang memadai.
"Kita harus memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, memperkuat kesiapan logistik, dan memperkuat sistem rujukan yang ada agar pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi semakin baik," katanya.
Ia menilai tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam menyelamatkan nyawa ibu dan bayi, sehingga peningkatan kompetensi harus dilakukan secara berkelanjutan.
Obet juga mengingatkan pentingnya pelaporan pelayanan kesehatan secara digital melalui aplikasi kesehatan yang telah diterapkan pemerintah guna mendukung pengambilan kebijakan berbasis data.
"Bapak dan ibu yang hadir di sini adalah pahlawan bagi kemanusiaan. Satu nyawa yang kita selamatkan di tanah ini adalah bagian dari menjaga masa depan Papua," ujarnya.
Ia berharap hasil workshop dapat meningkatkan kesiapsiagaan tenaga kesehatan dalam menangani kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal sehingga kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi di Papua Tengah terus membaik. (Redaksi)