BPS Catat 10.470 Warga Mimika Menganggur
Papua60detik - Badan Pusat Statistik (BPS) Mimika mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Mimika pada Agustus 2025 sebesar 6,75 persen. Angka ini naik 0,05 persen poin dibanding Agustus 2024.
Data tersebut hasil dari Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) yang dilaksanakan BPS pada Agustus hingga awal September, kemudian diolah dan dirilis kepada publik pada bulan Desember 2025. Sementara untuk tahun 2026, BPS belum dapat memberikan angka pengangguran karena Sakernas tahun tersebut belum dilaksanakan.
Kepala BPS Mimika, Dian Sudarmanto, menjelaskan angka 6,75 persen tersebut merupakan persentase pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja, bukan terhadap total penduduk.
Dalam penghitungan BPS, angkatan kerja adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang aktif bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Penduduk yang masih sekolah atau tidak aktif mencari kerja tidak termasuk dalam angkatan kerja.
Per Agustus 2025, jumlah angkatan kerja di Kabupaten Mimika sekitar 155 ribu orang, dengan jumlah pengangguran sekitar 10.470 orang. Sementara itu, total penduduk Mimika diperkirakan mencapai sekitar 330 ribu jiwa.
"Jadi kan kalau di BPS itu kita ada namanya angkatan kerja atau penduduk yang usia kerja. Nah, angkatan kerja ini itu penduduk usia 15 tahun ke atas yang aktif bekerja atau sedang mencari kerja. Jadi kan ini nanti dipisahkan ada yang sekolah, ada yang tidak," ujar Dian saat diwawancarai, Senin (23/06/2026).
Adapun tngkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Agustus 2025 turun 0,43 persen poin dibanding Agustus 2024. Berdasarkan jenis kelamin, TPAK laki-laki tercatat sebesar 84,56 persen, jauh lebih tinggi dibanding perempuan yang sebesar 47,77 persen. Meski demikian, tingkat pengangguran terbuka laki-laki justru lebih tinggi dibanding perempuan.
BPS juga mencatat, lapangan usaha penduduk bekerja di Mimika didominasi sektor jasa sebesar 48 persen, pertanian 25,3 persen, dan sektor industri atau investasi sebesar 26,6 persen. Sebanyak 56,96 persen penduduk bekerja berada pada sektor informal.
Dari sisi pendidikan, pekerja di Mimika didominasi lulusan SMA/sederajat sebesar 51,92 persen. Selanjutnya lulusan SD 17,16 persen, lulusan SMP 16,67 persen, dan lulusan perguruan tinggi 13,81 persen.
Terkait perbedaan data yang dicatat oleh komunitas pencaker atau Apelcemi sekitar 14 ribu orang penganggguran, Dian menjelaskan bahwa konsep yang digunakan berbeda. Dalam konsep BPS, seseorang yang memiliki usaha sendiri, bertani, atau berjualan tetap dikategorikan bekerja.
Sementara data pencaker umumnya lebih banyak mencatat masyarakat yang sedang mencari pekerjaan formal atau pekerjaan sebagai karyawan.
"Konsepnya beda. Mungkin mereka catat tidak bekerja tetapi punya usaha. Kalau BPS, kalau dia bertani dan hasilnya dijual ke pasar, masuk kategori bekerja. Mereka mungkin mencatat yang bekerja itu yang karyawan saja," pungkasnya. (Martha)