Efek Harga BBM Naik: Tarif Ojek Ikut Melonjak, Mama Papua di Nabire Mengeluh
Pedagang di Pasar Karang Nabire, Mama Martina Butu. Foto : Elia Douw/Papua60detik
Pedagang di Pasar Karang Nabire, Mama Martina Butu. Foto : Elia Douw/Papua60detik

Papua60detik - Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM non subsidi berdampak kemana-mana.

Seorang mama penjual sayur, buah-buahan, dan bumbu, Mama Martina Butu di Nabire mengaku kini tarif ojek ikutan naik yang bikin biaya hidup juga naik. Sementara dagangannya tidak selalu bisa mengikuti kenaikan biaya hidup. 

"Kenaikan ongkos transportasi menjadi permasalahan yang paling dirasakan oleh pedagang," ujarnya kepada wartawan saat ditemui di Pasar Karang, Senin (29/6/2026).

Mama Martina yang biasa jual buah-buahan dan sayuran di Pasar Karang, mengatakan tarif ojek yang sebelumnya hanya Rp5.000 kini meningkat menjadi Rp10.000 hingga Rp20.000, bahkan terkadang mencapai Rp30.000.

"Selama ini harga barang yang kami jual di pasar tetap saja. Tapi harga kebutuhan lain terus naik. Jualan juga kadang tidak laku. Dulu dari Pasar Karang ke Batalyon cukup Rp5.000, sekarang mereka minta Rp10.000, Rp20.000 bahkan sampai Rp30.000. Padahal jaraknya dekat," katanya. 


Menurutnya, keadaan tersebut membuat mama-mama penjual pangan lokal, bumbu-bumbu dan sayuran serta buah-buahan hasil kebun semakin terhimpit. Di satu sisi mereka harus mengeluarkan biaya transportasi yang lebih besar, sementara harga kebutuhan di kios dan toko juga terus meningkat.

"Kami mama-mama ini setengah mati. Harga di kios dan toko naik terus, penjual non OAP yang jual es-es di pasar kasih naik harga, tapi harga jualan kami belum naik. Kadang jualan juga tidak habis. Padahal dari hasil jualan itulah kami biayai anak-anak sekolah dan penuhi kebutuhan keluarga," ujarnya. 

Ia meminta pemerintah hadir memberikan solusi agar masyarakat kecil tidak terus menanggung beban tersebut.

"Kami mengerti ojek juga ikut karena BBM naik. Tapi pemerintah harus lihat kami juga," harapnya.

Keluhan sama disampaikan Mama Dalina Migau dari Wadio Atas. Sehari-hari ia berjualan rambutan, keladi, bete, dan berbagai jenis sayuran.

Katanya, mama-mama Papua berusaha mempertahankan harga hasil kebun agar tetap terjangkau bagi masyarakat. Namun ketika ongkos ojek, harga barang di kios, hingga kebutuhan sehari-hari terus meningkat, mereka akhirnya tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual.

“Harga ojek naik, harga barang di kios juga naik, jadi kami juga akan kasih naik kami pu harga jualan. Kalau dulu satu ikat bayam Rp5.000, sekarang kami akan kasih harga menjadi Rp10.000. Begitu juga sayur dan pangan lokal lainnya. Kalau tidak begitu, kami yang rugi. 

Katanya, ini bukan soal mencari keuntungan lebih besar, melainkan bertahan hidup di tengah biaya yang terus meningkat. (Elia Douw)