Freeport Rehabilitasi 484 Hektar Mangrove di NTB
Papua60detik - PT Freeport Indonesia (PTFI) menuntaskan rehabilitasi mangrove seluas 484 hektare di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai bagian dari komitmen perusahaan mendukung target restorasi mangrove nasional.
"Penanaman manggrove adalah suatu hal yang menjadi komitmen kami. Dalam operasionalnya kami tentu saja tidak semata-mata hanya produksi yang dipikirkan, tapi lebih juga kepada lingkungan," kata Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas saat ditemui di sela-sela aktivitas penanaman bibit mangrove di Labuan Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB, Selasa (7/7/2026) seperti dilansir ANTARA.
Tony mengatakan penyelesaian program itu menandai capaian terbesar rehabilitasi mangrove yang digarap perseroan di luar wilayah Papua sekaligus memperkuat kontribusi sektor usaha dalam mendukung ekonomi hijau dan mitigasi perubahan iklim.
Rehabilitasi mangrove merupakan tindak lanjut Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta PT Freeport Indonesia yang dilakukan pada tahun 2023.
Melalui kerja sama itu, tambah dia, perusahaan menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 2.000 hektare di luar wilayah operasional sebagai bagian dari dukungan terhadap program restorasi mangrove nasional.
"NTB punya potensi yang besar dan memang ekosistemnya menunjang untuk hal itu (penanaman mangrove)," kata Tony.
Kegiatan rehabilitasi mangrove di Nusa Tenggara Barat dilakukan dalam dua tahap, yakni seluas 193 hektare pada 2025 di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa. Aktivitas dilanjutkan hingga 291 hektare pada 2026 di Kabupaten Sumbawa yang menjadikan total luas rehabilitasi mencapai sekitar 484 hektare.
Program tersebut menjadikan Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu dari lima provinsi yang telah memiliki dokumen Rancangan Teknis (RANTEK) untuk pelaksanaan rehabilitasi mangrove. Penentuan lokasi penanaman dilakukan berdasarkan usulan Kementerian Lingkungan Hidup yang kemudian diverifikasi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).
Hingga tahun 2026, Freeport Indonesia telah menanam 1,5 juta bibit mangrove yang didominasi jenis Rhizophora sp di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Spesies Rhizophora sp atau yang sering disebut pohon bakau berperan melindungi daratan dari abrasi, intrusi air laut, menahan gelombang, menjadi tempat berlindung ikan dan udang.
Kegiatan rehabilitasi tersebut melibatkan 1.500 penduduk lokal mulai dari pembibitan, penanaman hingga pemeliharaan. Hal itu memberikan manfaat ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja berbasis konservasi.
Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat mengapresiasi upaya private sector yang turut membantu pemerintah dalam merehabilitasi ekosistem mangrove di Indonesia.
Dia mengatakan pohon mangrove memiliki daya serap emisi karbon yang jauh lebih besar sekitar empat sampai lima kali dibandingkan pohon tropis biasa yang tumbuh di wilayah daratan.
"Semua pihak, semua organisasi, bisnis ataupun non-bisnis, semuanya juga punya tanggung jawab untuk memperbaiki alam terkhusus yang di pesisir seperti mangrove," demikian Jumhur. (Redaksi)