Portugal Vs Kroasia: Dua Veteran, Ronaldo atau Modric Pulang Duluan?
Grafik ilustrasi Portugal melawan Kroasia dalam pertandingan 32 besar Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Stadion BMO Field, Toronto, Kanada, Rabu (1/7/2026) waktu setempat. ANTARA INFOGRAFIK/Vintan Rahmadanti
Grafik ilustrasi Portugal melawan Kroasia dalam pertandingan 32 besar Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Stadion BMO Field, Toronto, Kanada, Rabu (1/7/2026) waktu setempat. ANTARA INFOGRAFIK/Vintan Rahmadanti

Papua60detik - Cristiano Ronaldo dan Luka Modric bahu-membahu memainkan 223 pertandingan selama enam tahun di Real Madrid sejak 2012 sampai 2018.

Ronaldo lebih dulu bergabung dengan raksasa Liga Spanyol itu, namun juga yang lebih dulu meninggalkan klub itu ketimbang Modric.

Mereka bersahabat, baik di dalam maupun di luar lapangan, termasuk ketika harus saling berhadapan, terutama saat membela timnas mereka, Portugal dan Kroasia, serta setelah sama-sama tak lagi memperkuat Madrid, dalam laga tingkat klub.

Dikutip dari ANTARA, kedua negara sudah bertemu 10 kali dalam berbagai kompetisi, tapi Modric dan Ronaldo baru bertemu tiga kali. Ketiganya terjadi pada babak 16 besar Euro 2016, Nations League pada 17 September 2020, dan Nations League lagi pada 5 September 2024.

Ketiga laga itu dimenangkan oleh Portugal, dan tiga kemenangan itu adalah bagian dari tujuh kemenangan yang dicatat Selecao dari 10 pertemuan dengan Kroasia sebelum Piala Dunia 2026. Kroasia hanya menang satu kali.

Di level Piala Dunia, baru dalam Piala Dunia 2026 kedua pemain veteran ikonik itu saling berhadapan.

Mereka akan reuni ketika Portugal ditantang Kroasia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Toronto Stadium, Toronto, Kanada, pada Jumat (3/7/2026) pukul 08.00 WIT.

Pertemuan ini unik karena terjadi saat usia mereka sudah menginjak kepala empat.

Sebelum ini, hanya Roger Milla pemain non kiper berusia 40 tahun atau lebih yang bermain dalam putaran final Piala Dunia.

Kiprah Modric dan Ronaldo dalam Piala Dunia 2026  mendapat respons beragam. Ada yang menyambut positif, ada yang tidak.

Ronaldo dianggap menghambat generasi emas Portugal edisi ini dalam merengkuh pencapaian tertinggi, termasuk menjuarai Piala Dunia.

Tapi secara umum, dunia sepak bola menghormati warisan dan kiprah kedua pemain. Modric bahkan dihormati oleh rekan-rekan satu timnya, yang mungkin sebesar diberikan pemain-pemain Argentina kepada Lionel Messi.

Sepintas Lebih Baik

Namun demikian, bermain dalam usia 40-an tahun sungguh sebuah tantangan besar, sehingga performa bisa menurun.

Ronaldo sudah bermain 270 menit selama Piala Dunia 2026, di luar dua golnya, dia gagal memberikan assist kepada rekan-rekannya, menduduki urutan ke-31 dalam daftar 38 pemain depan yang terbanyak membuat sentuhan, urutan ke-32 dalam merebut lagi bola, dan ke-38 dalam duel mempertarungkan bola.

Catatan Modrid agak lebih baik. Selama 229 menit bermain sejauh ini, dia sudah membuat lima peluang, dan menduduki urutan ke-94 dan ke-98 dalam hal merebut lagi bola dan duel mempertarungkan bola, dari 103 gelandang yang bermain dalam Piala Dunia edisi ini.

Tetapi performa Ronaldo yang tak terlalu impresif itu tidak mencerminkan gambaran umum kekuatan Portugal. Selecao saat ini tetap dianggap lebih baik, karena berperingkat FIFA lebih tinggi. Portugal 8, Kroasia 13.

Portugal turut menjadi favorit juara dunia dan disebut-sebut sebagai salah satu juara baru di luar delapan tim yang sudah pernah mengangkat trofi Piala Dunia. Dalam soal ini, Kroasia ada dalam satu kolam dengan Portugal.

Kalau dilihat dari dua Piala Dunia terakhir sebelum edisi 48 ini, prestasi Kroasia jauh lebih bagus dan konsisten ketimbang Portugal.

Mereka menjadi runner up Piala Dunia 2018 setelah kalah dari Prancis dalam final edisi itu, dan urutan ketiga pada 2022 setelah mengalahkan Maroko saat perebutan tempat ketiga.

Tapi berdasarkan kinerja kedua tim selama fase grup, Portugal memang terlihat lebih baik dibandingkan dengan Kroasia.

Selecao berhasil mencetak 6 gol dari 37 peluang, sedangkan Vetreni membuat 5 gol.

Gawang Portugal juga lebih sulit ditembus lawan. Mereka baru kebobolan satu kali ketika gawang Kroasia sudah jebol lima kali.

Tim asuhan Roberto Martinez juga memiliki sentuhan di sepertiga terakhir lapangan yang lebih banyak, dengan 197 yang 70 persen di antaranya terjadi di kedua sayap. Sedangkan, Kroasia membuat total 133 sentuhan.

Walau disulitkan oleh Kongo dan Kolombia, pemain-pemain Portugal lebih aktif dalam membuka ruang agar bola dialirkan lebih lancar, yang ditunjukkan dari indikator offer to receive. Indikator itu menunjukkan, Kroasia hanya 938, sedangkan Portugal 1.210 kali.

Portugal juga jauh lebih aktif dalam menembus lini ke lini, dengan 597 kali yang 450 di antaranya efektif. Kroasia membuat 471 yang 289 di antaranya efektif.

"Formula Kolombia"

Portugal bisa memiliki catatan lebih baik seperti itu karena dianugerahi banyak pemain bagus, terutama yang beroperasi di lini tengah dan sayap.

Duet gelandang Paris Saint Germain, Vitinha dan Joao Neves, mantan gelandang Manchester City Bernardo Silva, gelandang Manchester United Bruno Fernandes, kerap disebut sebagai gelandang-gelandang terbaik di dunia saat ini.

Fakta dari data FIFA yang memperlihatkan Fernandes dan Vitinha menjadi dua pemain Selecao paling menonjol dalam hal menerobos pertahanan lawan, bergerak antarlini, mengirimkan umpan dan umpan silang, serta melakukan pressing. Hal itu menunjukkan lini tengah Portugal sangat hidup.

Bandingkan dengan Kroasia yang untuk soal pasokan umpan saja, angka tertingginya dipegang oleh bek tengah Josip Sutalo, 233 kali. Masih di bawah Vitinha, 281.

Data-data itu menunjukkan Portugal akan cenderung menguasai lapangan tengah, yang dalam sepak bola modern adalah titik awal untuk memenangkan pertandingan.

Sebenarnya, bersama Modric, lapangan tengah Kroasia tetap kuat, tapi tidak lebih kuat dari Selecao. Bahkan angka Modric dalam menuntaskan misi merusak mode defensif lawan lebih rendah dibandingkan Vitinha. Modric 42, Vitinha 74.

Yang pasti, hal paling menonjol dari laga ini adalah prospek terjadinya pertarungan di lini tengah dan sayap.

Baik pelatih Portugal Roberto Martinez maupun pelatih Kroasia Zlatco Dalic kerap memasang dua gelandang bertahan sebagai poros ganda, dan satu ujung tombak yang ditunjang tiga gelandang serang, dalam pola 4-2-3-1. Pola ini tidak diterapkan Zlatco Dalic saat Kroasia kalah 2-4 dari Inggris pada laga pertama Grup L.

Namun, Dalic kini menjadi pelatih yang lebih mungkin mengubah pola itu, bisa ke pola tiga bek dan empat gelandang, 3-4-3, seperti saat melawan Inggris, atau poros tunggal dengan tiga penyerang dalam pola 4-1-2-3 seperti diterapkan Kolombia kala mengimbangi Portugal 0-0 dalam pertandingan terakhir Grup K.

Saat itu Kolombia mengungguli Portugal dalam hampir semua hal, dari penguasaan bola sampai penciptaan peluang.

"Formula Kolombia" ini patut dicoba oleh Dalic untuk menandingi superioritas lapangan tengah Portugal, dan sekaligus mematikan inisiatif serangan dari Selecao dengan lebih dulu memasang mode ofensif seperti dilakukan Kolombia.

Jika Kroasia berhasil dengan polanya, maka Modric yang akan menghadapi Spanyol atau Austria pada babak 16 besar. Dengan begitu, Ronaldo menjadi ikon yang mesti mengakhiri perjalanan lebih awal.

Tapi jika tetap Portugal yang lebih dominan di tengah, maka Selecao memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menghadapi Spanyol atau Austria. Dalam skenario ini, Modric yang harus mengucapkan selamat tinggal lebih dulu. (Redaksi)