Tekan Angka HIV-AIDS, KPA Papua Tengah Bidik Prostitusi Daring
Ketua KPA Provinsi Papua Tengah, Freny Anouw. Foto : Elia Douw/Papua60detik
Ketua KPA Provinsi Papua Tengah, Freny Anouw. Foto : Elia Douw/Papua60detik

Papua60detik - Praktik prostitusi daring yang menjamur melalui aplikasi percakapan kini menjadi target utama dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS di Provinsi Papua Tengah.

KPA Provinsi Papua Tengah mengidentifikasi aktivitas tersebut sebagai pemicu utama melonjaknya angka penularan HIV dan AIDS yang kini menembus angka 24.777 kasus.

Ketua KPA Provinsi Papua Tengah, Freny Anouw, mengaku bakal segera memanggil seluruh jajaran KPA tingkat kabupaten untuk menyinkronkan strategi lapangan.

Fokus operasi ini menyasar Kabupaten Nabire dan Kabupaten Mimika yang mencatat aktivitas transaksi seksual digital paling masif.

Tren serupa juga mulai terdeteksi merambah wilayah pegunungan seperti Paniai, Deiyai, dan Dogiyai.

"Kami provinsi hanya memprogramkan kerja, namun eksekusi ada di tingkat kabupaten karena merekalah yang memiliki masyarakat," ujar Anouw di Nabire, Sabtu (28/2/2026).

Freny menyoroti legalitas operasional sejumlah homestay dan hotel yang terindikasi menjadi tempat penampungan transaksi seksual.

"Namun, pemerintah daerah yang memiliki kewenangan penuh untuk mengevaluasi kembali izin usaha yang diduga disalahgunakan tersebut," katanya. 

KPA juga memastikan akan turun langsung ke lapangan guna memverifikasi legalitas setiap tempat penginapan yang mencurigakan. Jika aktivitasnya tak berizin atau usahanya tak sesuai izin, KPA bakal meminta Satpol PP menutupnya.

"Langkah preventif ini diperkuat dengan nota kesepahaman (MoU) antara KPA Papua Tengah, Satpol PP, serta Polda Papua Tengah," katanya Anouw. 

Kolaborasi lintas instansi ini, lanjut Freny bertujuan untuk menciptakan pengawasan yang lebih ketat terhadap sektor hiburan malam. Freny mengingatkan pemerintah daerah agar tidak hanya mengejar target retribusi daerah dari sektor hiburan semata.

"Ini demi kemanusiaan, jangan hanya memikirkan retribusi daerah, pikirkan bagaimana menyelamatkan manusianya," tambah Freny.

KPA juga meminta pengurus RT dan RW untuk lebih proaktif memantau pergerakan warga asing di lingkungan mereka.

Lurah dan kepala kampung diimbau tidak sembarangan mengeluarkan izin pembangunan tempat hiburan.

"Pengawasan ketat terhadap peredaran minuman keras juga menjadi poin penting karena sering menjadi pemicu perilaku seksual tidak aman," ujar Freny.

Adapun solusi jangka panjang, KPA akan mendistribusikan modul edukasi bahaya HIV/AIDS kepada pelajar dan masyarakat luas.

Edukasi sejak dini diharapkan mampu membangun tameng diri bagi generasi muda Papua Tengah dari ancaman virus mematikan. (Elia Douw)