BMKG: Kabut Asap di Timika Kiriman dari Merauke
Prakirawan BMKG Mozes Kilangin Timika, Dwi Christanto. Foto: Martha/ Papua60detik
Prakirawan BMKG Mozes Kilangin Timika, Dwi Christanto. Foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Angin yang tidak terlihat menjadi dalang menurunnya kualitas udara di Timika. Hal itu berdampak pada warga mulai dari sisi aktivitas dan juga potensi penyakit ISPA.

Prakirawan BMKG Mozes Kilangin Timika, Dwi Christanto menyebut selain El Nino, saat ini, Indonesia mengalami angin timuran. Angin bergerak dari Australia menuju Indonesia. Untuk Papua tengah, angin melintasi Papua Selatan ke Papua Tengah. Kondisi ini membuat asap kebakaran di Merauke terbawa hingga Timika. 

"Analisis sementara seperti itu. Yang terbakar di sini (Merauke), maka asapnya sampai ke Timika. Sementara Nabire juga mengalami angin timuran, asapnya terbawa ke daerah lain," ujar Dwi saat diwawancarai. 

Pengaruh El Nino, BMKG mencatat beberapa titik di wilayah Papua terdeteksi merah dan kuning. Sementara di Kabupaten Mimika hanya ada ada di Distrik Hoya satu titik berwarna kuning (kemungkinan besar ada titik api). 

Perpaduan asap dan kabut, kata Dwi sangat mempengaruhi jarak pandang pada penerbangan. Hari ini, 24 Agustus 2026, Lion Air yang dijadwalkan tiba sekitar pukul 06.00 WIT mengalami kendala pendaratan dan dialihkan akhirnya ke Jayapura. 

"Tadi jam lima jarak pandangnya 1.500 meter, jam sengah tujuh menurun 800 meter, baru naik jam sengah delapan menjadi 3.000 meter," kata Dwi.

Sementara itu, di sisi kenyamanan, warga Mimika mulai memakai masker dalam beraktivitas. Misalnya di SD Inpres Koperapoka 1, siswa mulai diimbau memakai masker. Sekolah juga berencana membagikan masker gratis kepada siswa. 

"Resminya hari ini kita kirim pemberitahuan ke orang tua untuk siapkan masker bagi anak-anak. Rencananya, kita mau membagikan masker juga," ujar Kepala Sekolah, Margarita Abraham. 

Bukan hanya kenyamanan, asap yang mengakibatkan udara tercemar dapat menyebabkan penyakit ISPA, gangguan pernapasan, khususnya bagi anak-anak. Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Godfried Maturbongs, mengimbau masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, memakai masker. 

"Ini untuk menghindari supaya jangan terjadi peningkatan penyakit ISPA. Khususnya anak-anak karena di sekolah mereka pasti berinteraksi saat istirahat. Ketika ada satu anak batuk pasti akan menular ke anak-anak lain. Di dalam ruangan, potensi penularan ISPA sangat cepat," ucapnya. 

Untuk pembagian masker gratis, Godfried menyebut masih menunggu instruksi Bupati. 

Bupati Mimika, Johannes Rettob, saat apel mengingatkan semua warga Mimika untuk tidak melakukan aktivitas membakar. Saat ini di Papua Tengah sudah ada beberapa kabupaten tetangga yang sudah mengalami kebakaran, seperti Kabupaten Nabire, Puncak, dan Dogiyai. 

"Mari kita sampaikan ke masyarakat supaya kita jangan membakar sampah sembarangan. Ada yang mau buka kebun, jangan dulu bakar, sabar-sabar dulu sementara. Tolong dilihat, kita semua punya tanggung jawab ini," pesannya. 

Terkait kualitas udara di Timika, BMKG mengaku belum memiliki alat pemantauan kualitas udara. Sementara ini, alat pemantauan hanya tersedia di Sorong. Namun, berdasarkan data AccuWeather, kualitas udara di Timika tercatat mencapai 104 AQI, yang masuk kategori tidak sehat, terutama bagi kelompok sensitif.

"Efek kesehatan dapat langsung terasa oleh kelompok yang sensitif. Orang sehat mungkin mengalami kesulitan bernapas dan iritasi tenggorokan jika terpapar terlalu lama. Batasi kegiatan di luar ruang," demikian kutipan pada platform layanan tersebut. (Martha)