Bupati Intan Jaya Minta Konflik Aparat Vs TPNPB Tak Menyasar Warga Sipil
Bupati Kabupaten Intan Jaya, Aner Maisini. Foto : Elia Douw/Papua60detik
Bupati Kabupaten Intan Jaya, Aner Maisini. Foto : Elia Douw/Papua60detik

Papua60detik - Bupati Intan Jaya, Aner Maisini menegaskan masyarakat sipil tidak boleh jadi sasaran dalam konflik bersenjata. 

Ia meminta aparat keamanan TNI/Polri maupun TPNPB mengedepankan penegakan  humanis dan tidak menjadikan warga sipil sebagai korban dalam situasi keamanan di daerah Intan Jaya.

Pernyataan itu ia sampaikan menyikapi insiden ledakan yang menyebabkan empat warga sipil terluka akibat ledakan yang diduga berasal dari bahan peledak yang dijatuhkan menggunakan pesawat tanpa awak (drone) di halaman Gereja Katolik Stasi St. Paulus Nabuni, Kampung Mbamogo, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah pada Minggu, 17 Mei 2026.

“Yang jadi korban itu masyarakat sipil dan itu terjadi di halaman gereja. Jadi saya minta TNI/Polri untuk tidak menyasar tempat aktivitas masyarakat karena yang akan jadi korban adalah masyarakat sipil,” tegas Aner Maisini saat dijumpai di Nabire, Senin (18/5/2026).

Aner mengatakan, konflik antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata seharusnya tidak menyeret masyarakat sipil sebagai korban.

Ia juga meminta TPNPB untuk tidak beraktivitas di tengah permukiman warga karena dapat membahayakan keselamatan masyarakat sipil.

Menurut Aner, kondisi keamanan di Intan Jaya dalam satu tahun terakhir mulai berangsur kondusif. Masyarakat yang sebelumnya mengungsi kini mulai kembali ke kampung dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti berkebun, bersekolah, dan mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Kita puji Tuhan, daerah mulai kondusif. Pengungsi sudah mulai pulang dan masyarakat kembali membangun kehidupan mereka,” ujar Bupati.

Terkait situasi terbaru, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya telah melakukan evakuasi terhadap masyarakat  terdampak ke Sugapa dan menyiapkan penanganan lanjutan bagi korban yang mengalami luka.

“Hari ini kami sudah evakuasi masyarakat ke Sugapa dan kumpulkan di barak sementara. Untuk korban yang mengalami luka akan dievakuasi ke Timika untuk pengobatan lebih lanjut,” jelasnya lagi.

Aner mengajak seluruh elemen masyarakat, aparat keamanan, tokoh agama, dan TPNPB bersama-sama menjaga situasi tetap aman agar pembangunan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan di Intan Jaya dapat terus berjalan.

“Kita sama-sama jaga supaya tidak ada pengungsian lagi dan pembangunan tetap berjalan,” tutupnya. 

Dikutip dari ANTARA, Kepala Penerangan Komando Operasi TNI Habema, Letkol Inf M Wirya Arthadiguna,

Komando Operasi (Koops) TNI Habema menegaskan pihaknya tidak terlibat dalam insiden ledakan tersebut.

"Kami menyesalkan adanya pemberitaan dan narasi di media sosial yang langsung menuduh TNI/Polri sebagai pelaku. Di sini kami tegaskan bahwa TNI bukan pelaku pengeboman tersebut," kata Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol (Inf) Wirya Arthadiguna.

Menurut Wirya, pihaknya mempunyai beberapa bukti yang menunjukkan TNI tidak melakukan aksi peledakan itu.

Bukti pertama yakni granat yang ditemukan di lokasi berbeda dengan standar granat yang dimiliki TNI.

Selanjutnya, dia mengatakan pihak TNI tidak pernah menggunakan pesawat nirawak (drone) peledak untuk menyerang warga sipil, terlebih di rumah ibadah.

Selain itu, lanjut Wirya, pihaknya tidak mungkin melakukan hal tersebut karena sedari awal tugas TNI di Papua untuk menciptakan keamanan dan melindungi warga setempat.

"TNI selalu mengedepankan pendekatan keamanan yang humanis dan melindungi masyarakat Papua," ucap dia.

Hingga saat ini, Koops Habema akan terus mencari tahu siapa dalang dibalik aksi teror ini.

Selama proses penelusuran berjalan, Wirya mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi tidak benar yang dapat menyesatkan warga karena menuduh TNI terlibat dalam ledakan aksi ledakan ini.

"Kami mengimbau seluruh pihak untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi yang berpotensi memprovokasi dan memperkeruh situasi keamanan di Intan Jaya," kata Wirya.

Dia menduga insiden ini sangat mungkin merupakan aksi provokasi pihak-pihak yang ingin memecah belah TNI dengan masyarakat Papua. (Elia Douw)