Dinkes Papua Tengah & YSBH Workshop Penyelidikan Epdemiologi Malaria
Ilustrasi nyamuk malaria Foto: Generated by Canva
Ilustrasi nyamuk malaria Foto: Generated by Canva

Papua60detik - Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah bekerja sama dengan Yayasan Sinar Bhakti Husada (YSBH) menggelar workshop penyelidikan epidemiologi 1-2-5 (PE 1-2-5) di Kabupaten Nabire, selama dua hari mulai Rabu (1/7/2026).

Program Officer Yayasan YSBH, Pungut Sunarto, menyampaikan, Provinsi Papua Tengah masih menjadi salah satu wilayah endemis malaria di Indonesia dengan tingkat endemisitas yang berbeda-beda di setiap kabupaten.

Berdasarkan Annual Parasite Incidence (API), Kabupaten Mimika menempati kategori endemis sangat tinggi (Endemis III) dengan API mencapai 575 per 1.000 penduduk. Kabupaten Nabire berada pada kategori endemis tinggi (Endemis I) dengan API 49 per 1.000 penduduk, disusul Kabupaten Puncak dengan API 24 per 1.000 penduduk, dan Kabupaten Puncak Jaya dengan API 8,56 per 1.000 penduduk.

Untuk kategori endemis sedang, Kabupaten Paniai mencatat API sebesar 2,3 per 1.000 penduduk. Sedangkan kategori endemis rendah terdapat di Kabupaten Dogiyai dengan API 0,4 per 1.000 penduduk dan Kabupaten Deiyai sebesar 0,10 per 1.000 penduduk.

Pungut Sunarto menyebutkan bahwa penyelidikan epidemiologi dilakukan untuk memetakan wilayah distrik atau Puskesmas mana yang sudah pada tahap pre eliminasi maupun eliminasi malaria di kabupaten-abupaten terpilih

Workshop diikuti 16 Puskesmas. Kabupaten Nabire terdiri dari 10 Puskesmas, Dogiyai 3 Puskesmas dan Deiyai 3 Puskesmas. 

"Harapannya peserta dapat memahami tentang PE 1-2-5 karena Penyelidikan Epidemiologi tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan untuk menuju eliminasi malaria," ucap Pungut Sunarto.

Penanggung Jawab Program Malaria Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Yenice Derek, mengatakan peserta workshop akan menerapkan hasil pelatihan di wilayah kerja masing-masing. 

Apabila ditemukan kasus positif malaria di daerah dengan tingkat endemisitas sedang maupun rendah, petugas akan melakukan penyelidikan epidemiologi sesuai standar operasional prosedur (SOP) untuk menghasilkan pemetaan endemisitas malaria yang akurat dan berbasis data lapangan.

Setelah terpetakan, Dinkes Provinsi Papua Tengah bersama YSBH dan Tim akan melakukan penilaian melalui TIM Assesment Penilaian Eliminasi  yang akan di bentuk di Provinsi Papua Tengah.

Sementara itu, Tim kerja Malaria Kementrian Kesehatan, Riskha Tiara Puspadewi menyebutkan melalui PE 1-2-5 dapat menunjang percepatan eliminasi malaria. Salah satu persyaratan eliminasi malaria adalah selama 3 tahun tidak ada kasus penularan setempat. 

Riskha menegaskan, tujuan lain dari PE adalah dapat melakukan klasifikasi kasus untuk membedakan kasus penularan setempat atau kasus impor sehingga melalui kegiatan PE 1-2-5.

Riskha menjelaskan, tujuan lain dari penyelidikan epidemiologi adalah mengklasifikasikan kasus untuk membedakan antara kasus penularan setempat dan kasus impor. Dengan demikian, kegiatan PE 1-2-5 dapat mendukung penentuan klasifikasi kasus secara tepat.

"Melakui PE ini dapat menunjang percepatan eliminasi malaria. Nantinya, setiap kasus yang ditemukan dapat ditindaklanjuti dengan penyelidikan kasus, penyelidikan fokus sampai intervensi penanggulangan vektornya," pungkasnya. (Martha)