Diskusi Hari Internasional Masyarakat Adat di Timika: Hutan Hilang, Alam Rusak, Tiada Tempat Pulang
Lepemawi nonton bareng dan diskusi film dokumenter Gelek Malak Kalawilis Pasa: Lepemawi Nonton Gelek Malak Kalawilis Pasa di Naena Muktipura, Sabtu (8/8/2026). Foto: Lepemawi
Lepemawi nonton bareng dan diskusi film dokumenter Gelek Malak Kalawilis Pasa: Lepemawi Nonton Gelek Malak Kalawilis Pasa di Naena Muktipura, Sabtu (8/8/2026). Foto: Lepemawi

Papua60detik - Peringati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (Himas), Lembaga Peduli Masyarakat Mimika Timur (Lepemawi) nonton bareng dan diskusi film dokumenter Gelek Malak Kalawilis Pasa: menafsirkan bahasa alam. Himas diperingati setiap 9 Agustus.

Film dokumenter berdurasi hampir 1 jam ini menceritakan tentang perjuangan masyarakat adat Gelek Malak Kalawilis Pasa di Distrik Sayosa, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya mempertahankan tanah adat dari ancaman aktivitas ekstraktif dan hilangnya ruang hidup. 

Nobar berlangsung di Kampung Naena Muktipura, Sabtu (08/08/2026), diikuti berbagai elemen masyarakat adat, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan laki-laki, anak muda. Nobar dilanjutkan diskusi hangat dan penuh reflektif.

Ketua Lepemawi, Adolfina Kuum akrab disapa Dolly mengatakan film dokumenter tersebut adalah cerminan ketika manusia kehilangan ruang hidup. Kerusakan hutan tidak hanya berdampak kepada manusia. Satwa yang kehilangan habitatnya menunjukkan perubahan perilaku. Dalam film digambarkan bagaimana buaya menjadi lebih agresif dan menyerang manusia karena ruang hidup mereka terganggu.

Ia menyebut, salah satu pesan kuat dari film menyebutkan hutan merupakan tempat pulang. Sementara sekarang ini yang terjadi adalah kerusakan alam akibat penebangan hutan dan masuknya industri ekstraktif. Pohon-pohon ditebang, sungai dan laut tercemar, dan alam yang selama ini menjadi rumah tempat pulang dan sumber kehidupan masyarakat mengalami kerusakan.

"Dalam film itu, Ayub dia bercerita bahwa hutan itu tempat untuk pulang. Tetapi bagaimana ketika masyarakat adat kehilangan hutan? Mereka bisa pulang atau tidak, mau pulang le mana?" kata Dolly. 

Menurut Dolly, seharusnya lembaga adat Amungme dan Kamoro hadir sebagai perisai yang melindungi hutan, tanah, air, gunung dan seluruh ruang hidup masyarakat adat. Namun, lembaga adat saat ini  katanya, semakin lemah karena terpecah-belah. 

"Mereka merasa prihatin dengan situasi lembaga adat yang gagal melindungi. Kalau lembaga adatnya sudah begini, bagaimana dengan masyarakat yang seharusnya mereka lindungi?" tambahnya. 

Bagi Dolly, film Gelek Malak Kalawilis Pasa bukan hanya tentang masyarakat adat di Sayosa. Tetapi, menjadi pengingat bagi warga Timika, bahwa ketika hutan hilang, ketika alam rusak, maka tempat pulang, serta warisan leluhur bagi generasi juga turut hilang. 

Ketua Panitia, Geovani Pogolamun, berharap Nobar ini bikin warga makin sadar bahwa tanah dan hutan adalah mama yang memberikan kehidupan. Ketika tanah dijual atau dirampas, yang hilang bukan hanya sebidang tanah, tetapi juga ruang hidup dan warisan leluhur.

Celakanya, generasi hari ini menurutnya, semakin banyak yang tidak lagi mengenal hutan, alam dan wilayah marganya. Ia menuding  penjualan tanah, perampasan tanah adat, serta kebijakan pemerintah yang dibuat tanpa melibatkan masyarakat adat jadi sebabnya.

"Jadi, ke depan kita mulai berpikir untuk stop jual tanah. Tetapi bagaimana kita harusnya menyediakan pendidikan-pendidikan adat buat generasi kita untuk bisa menjaga warisan-warisan leluhur," tegasnya. 

Ia juga menyoroti perubahan ekosistem karena kerusakan lingkungan. Kini, seperti penyampaian 

Merujuk pernyataan para perempuan nelayan di sesi diskusi, Geovani mengatakan, akibat perubahan ekosistem, kini muncul satwa baru. 

Menurutnya, perubahan tersebut tak lain dari akibat terganggunya ruang hidup ekologi akibat pencemaran dan kerusakan lingkungan, termasuk dampak aktivitas industri dan tailing PT Freeport Indonesia (PTFI). (Martha)