Musim Kemarau, Labu Siam Sulit Ditemukan di Pasar Sentral Timika
Lapak salah satu pedagang di Pasar Sentral Timika, foto: Martha/Papua60detik
Lapak salah satu pedagang di Pasar Sentral Timika, foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik - Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan komoditas pangan di pasaran. Salah satunya labu siam kini mulai sulit ditemui di Pasar Sentral Timika. 

Beberapa pedagang mengaku sudah tidak memiliki stok labu siam. Seorang pedagang, Alfian, mengatakan labu siam didatangkan dari Wamena.

Ia menyebut, labu siam hanya bisa tumbuh di wilayah dingin dan dataran tinggi seperti Wamena. Sementara Wamena juga saat ini mengalami kekeringan sehingga mempengaruhi ketersediaan stok di Timika. 

"Labu siam lagi kosong, tidak ada di pasar. Banyak juga peminatnya. Biasanya mereka beli untuk banyak keperluan," kata Alfian saat diwawancarai, Kamis (27/08/2026). 

Bawang merah justru mengalami penurunan  harga. Sebelumnya, Rp65 ribu per kg menjadi Rp55 ribu per kg. Cabai rawit lokal Rp120 ribu per kg, cabai rawit kiriman Rp100 ribu. Cabai merah dan cabai keriting Rp90 ribu. 

Alfian mengatakan harga tersebut masih dapat berubah. Sebab musim kemarau sangat berdampak pada ketersediaan pasokan di pasaran.  

"Sayuran masih aman, Rp5 ribu satu ikat. Karena beberapa petani di sini punya sumur sendiri jadi masih bisalah," ucapnya. (Martha)