Pemprov Kaji Pembatasan Telur dari Luar Papua Tengah
Kepala Diskopdag Provinsi Papua Tengah Yuliten Makai, (Kanan), didampingi Kepala Bidang Perdagangan, Brian Sendoh bagian (kiri). Foto : Elia Douw/ Papua60detik
Kepala Diskopdag Provinsi Papua Tengah Yuliten Makai, (Kanan), didampingi Kepala Bidang Perdagangan, Brian Sendoh bagian (kiri). Foto : Elia Douw/ Papua60detik

Papua60detik - Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopdag) Provinsi Papua Tengah kini tengah mengkaji dampak masuknya telur dari luar daerah terhadap keberlangsungan usaha peternak lokal di Papua Tengah.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua Tengah, Brian Sendoh, mengatakan kajian tersebut diperlukan mengingat melimpahnya produksi telur dari Surabaya yang saat ini didistribusikan ke Papua Tengah.

“Kita tahu bahwa di Surabaya produksi telur sangat melimpah dan didistribusikan ke berbagai provinsi, termasuk Papua Tengah. Karena itu pemerintah perlu melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk mengkaji kemungkinan pembatasan barang yang masuk. Namun semua harus melalui analisis dan kajian yang matang,” ujar Brian kepada wartawan usai pembukaan Pelatihan Teknis Pengawasan Perdagangan di Aula RRI jalan merdeka, Nabire, Senin (22/6/2026) pagi.

Menurutnya, hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan yang tetap memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan perlindungan terhadap pelaku usaha lokal.

Selain membahas perlindungan peternak lokal, Brian mengungkapkan pemerintah juga sedang mendorong penguatan pelaku usaha Orang Asli Papua melalui program pemberdayaan UMKM.

“Kami berencana mengeluarkan surat edaran atau instruksi untuk memberdayakan pengusaha-pengusaha asli Papua yang ada di Provinsi Papua Tengah agar dapat berkembang dan menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.

“UMKM yang sudah siap dan memiliki produk unggulan akan kami fasilitasi mengikuti Trade Expo Indonesia. Ini menjadi peluang untuk memperkenalkan produk Papua Tengah ke pasar nasional bahkan internasional,” katanya.

Ia menyebut sektor kopi menjadi salah satu komoditas unggulan yang terus didorong pengembangannya.

Kabupaten Paniai, Dogiyai, dan Puncak dinilai memiliki potensi besar sebagai sentra produksi kopi Papua Tengah.

Karena itu, pemerintah berencana meningkatkan kapasitas petani kopi dan pelaku usaha melalui berbagai program pelatihan, termasuk pelatihan barista bagi generasi muda Orang Asli Papua OAP.

“Kami ingin anak-anak Papua Tengah tidak hanya mampu memproduksi kopi, tetapi juga mampu mengolah dan memasarkannya dengan baik. Potensi kopi Papua Tengah sangat luar biasa,” ujarnya.

Selain kopi, pemerintah juga mendorong pengembangan produk olahan buah merah di Kabupaten Puncak Jaya sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.

Brian menambahkan bahwa keberhasilan program pemberdayaan UMKM sangat bergantung pada sinkronisasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.

“Jangan sampai program provinsi dan kabupaten tumpang tindih. Jika kabupaten fokus pada pelatihan, maka provinsi bisa membantu peralatan atau pemasaran. Dengan begitu bantuan yang diberikan benarbenar sesuai kebutuhan pelaku usaha di lapangan,” pungkasnya. 

Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah berharap UMKM lokal semakin berkembang, memiliki daya saing, serta mampu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. (Elia Douw)